Oleh: Ali Syarief
Ada orang Islam yang begitu takut kepada babi.
Takut menyentuhnya.
Takut memakannya.
Takut piringnya pernah bersentuhan dengannya.
Takut makanan yang disajikan mengandung sedikit saja unsur babi.
Itu bukan sesuatu yang salah.
Bagi seorang Muslim, menjaga makanan dari yang diharamkan adalah bagian dari ketaatan.
Tetapi saya sering bertanya-tanya:
**Mengapa ada orang yang begitu takut kepada babi, tetapi tidak takut berbohong?**
Mengapa begitu takut makan daging babi, tetapi tidak takut memakan uang yang bukan haknya?
Mengapa takut menyentuh babi, tetapi tidak takut menyentuh hak orang miskin?
Mengapa takut makanan menjadi haram, tetapi tidak takut penghasilannya berasal dari korupsi?
Dan mengapa takut sesuatu yang najis menyentuh tubuhnya, tetapi tidak takut kata-kata kotor keluar dari mulutnya?
Di sinilah kita menemukan ironi terbesar dalam kehidupan beragama.
Kadang-kadang manusia begitu sibuk menjaga **kesucian tubuh**, tetapi lupa menjaga **kesucian perilaku**.
Kita hidup di zaman ketika label halal bisa diperiksa dengan sangat teliti.
Komposisi makanan diperiksa.
Logo halal dicari.
Restoran ditanya.
Bahan makanan dipastikan.
Tetapi ketika seseorang berdusta, kita sering menganggapnya sebagai bagian dari strategi.
Ketika seseorang memanipulasi fakta, disebut komunikasi politik.
Ketika seseorang mengambil uang negara, disebut kasus.
Ketika seseorang menghina orang lain, disebut kritik.
Ketika seseorang tidak punya pengetahuan tetapi berbicara seolah-olah paling tahu, kita malah menyebutnya percaya diri.
Betapa anehnya manusia.
**Kita begitu takut terhadap dosa yang terlihat, tetapi sering berdamai dengan dosa yang sudah menjadi kebiasaan.**
Padahal agama tidak hanya berbicara tentang apa yang masuk ke dalam mulut.
Agama juga berbicara tentang apa yang keluar darinya.
Al-Qur’an mengingatkan:
> **“Janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil.”**
> *(QS. Al-Baqarah: 188)*
Ayat ini menarik.
Sebab manusia bisa saja sangat berhati-hati terhadap makanan yang haram, tetapi lupa bahwa ada cara lain untuk “memakan” sesuatu yang haram: melalui korupsi, penipuan, manipulasi, suap, dan mengambil hak orang lain.
Mungkin kita perlu bertanya:
**Apa gunanya makanan kita halal, jika uang untuk membelinya berasal dari sesuatu yang haram?**
Apa gunanya mulut kita mengucapkan *Bismillah* sebelum makan, jika tangan kita mengambil sesuatu yang bukan milik kita?
Apa gunanya kita begitu teliti mencari restoran halal, jika setelah makan kita keluar membawa kebohongan?
Ada pula orang yang sangat takut menjadi **tidak Islami**, tetapi tidak takut menjadi **tidak manusiawi**.
Ini lebih menyedihkan.
Ia mudah menghakimi pakaian orang lain.
Mudah mengomentari makanan orang lain.
Mudah mempertanyakan ibadah orang lain.
Tetapi ia tidak merasa bersalah ketika menghina.
Tidak merasa berdosa ketika memfitnah.
Tidak merasa malu ketika merendahkan.
Tidak merasa bersalah ketika menyakiti.
Padahal Rasulullah SAW bersabda:
> **“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”**
> *(HR. Bukhari dan Muslim)*
Perhatikan:
**lisan dan tangan.**
Dua hal yang sangat sederhana.
Tetapi justru dua hal yang sering menjadi sumber masalah manusia.
Lidah bisa membunuh kehormatan seseorang.
Tangan bisa mengambil hak seseorang.
Dan keduanya bisa dilakukan oleh manusia yang secara lahiriah tampak sangat saleh.
Lalu ada satu ketakutan lain yang hampir tidak pernah dibicarakan:
**takut menjadi bodoh.**
Bodoh bukan dosa.
Tidak tahu bukan dosa.
Yang berbahaya adalah **tidak tahu tetapi tidak mau belajar.**
Lebih berbahaya lagi: tidak tahu, tetapi merasa paling tahu.
Padahal wahyu pertama justru berbunyi:
**Iqra’.**
Bacalah.
Seolah-olah agama hendak mengingatkan manusia bahwa keimanan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berpikir.
Seorang Muslim seharusnya tidak hanya takut kepada makanan haram.
Ia juga harus takut terhadap **kebodohan yang dipelihara**.
Karena orang bodoh yang sadar dirinya bodoh masih bisa belajar.
Tetapi orang yang bodoh dan merasa dirinya paling pintar akan menutup pintu bagi ilmu.
Maka mungkin sudah waktunya kita memperluas makna kesalehan.
Kesalehan bukan hanya tentang apa yang kita makan.
Tetapi juga tentang apa yang kita lakukan.
Bukan hanya tentang pakaian.
Tetapi tentang perilaku.
Bukan hanya tentang ibadah pribadi.
Tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan manusia lain.
Bukan hanya tentang hubungan kita dengan Tuhan.
Tetapi juga tentang amanah yang dititipkan Tuhan kepada kita.
**Jangan hanya bertanya apakah makananmu halal.**
Tanyakan juga:
Apakah uangmu halal?
Apakah pekerjaanmu halal?
Apakah caramu mendapatkan jabatan halal?
Apakah perkataanmu halal dari dusta?
Apakah tanganmu bersih dari mengambil hak orang lain?
Apakah hatimu bersih dari kebencian?
Apakah ilmumu membuatmu semakin rendah hati?
Sebab mungkin persoalan terbesar umat manusia bukan lagi sekadar tentang apa yang masuk ke dalam perut.
Tetapi tentang apa yang sudah masuk terlalu jauh ke dalam karakter.
Keserakahan.
Kebohongan.
Kesombongan.
Kebencian.
Kemunafikan.
Dan keinginan untuk selalu terlihat benar.
Kita takut babi karena kita tahu ia haram.
Tetapi apakah kita juga takut menjadi manusia yang **mengharamkan hak orang lain**?
Kita takut najis.
Tetapi apakah kita takut **menajiskan kehormatan orang lain dengan fitnah?**
Kita takut makanan haram.
Tetapi apakah kita takut **rezeki haram?**
Kita takut dosa yang diketahui manusia.
Tetapi apakah kita takut dosa yang hanya diketahui Tuhan?
Pada akhirnya, barangkali ukuran kesalehan tidak terletak pada seberapa sering kita mengatakan:
**“Itu haram!”**
Melainkan seberapa sering kita mampu mengatakan kepada diri sendiri:
**“Aku tidak akan melakukannya, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat.”**
Di situlah iman menemukan ruangnya.
Di ruang yang sunyi.
Ketika tidak ada kamera.
Tidak ada wartawan.
Tidak ada pengikut media sosial.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada orang yang memuji.
Hanya kita dan Tuhan.
Dan di saat itulah pertanyaan yang sesungguhnya muncul:
**Apakah kita hanya takut kepada babi—atau benar-benar takut kepada Allah?**
Karena pada akhirnya, **kesalehan yang hanya berhenti di piring belum tentu sampai ke hati.**








