Manusia diberi akal, pikirannya bebas,
Mampu membedakan benar dan salah,
Sementara binatang hanya tunduk pada alam,
Tak pernah bertanya tentang tujuan dan jalan.
Namun datanglah suara ilmiah,
Mengacak pemahaman lama yang sakral,
Ruh, jiwa, pikiran mereka anggap mitos,
Hanya listrik otak yang menggerakkan, tanpa roh.
Dari evolusi, mereka lihat asalnya,
Pikiran manusia tumbuh, bukan karunia,
Dari monyet ke manusia, begitulah cerita,
Tanpa akal, tanpa jiwa, hanya algoritma.
Maka, apa arti cinta, nurani, dan jiwa?
Apa semua itu hanya ilusi belaka?
Apakah manusia hanya mesin yang berpikir,
Atau masihkah ada hati yang bisa berdebar dan merasakan?
Sementara agama berkata lain,
Akal dan jiwa adalah pemberian Tuhan,
Yang kelak akan dipertanggungjawabkan,
Di hadapan-Nya, atas semua yang telah dilakukan.
Mungkin suatu hari, istilah “pikiran” akan sirna,
Digantikan “informasi” oleh mesin yang sempurna,
Namun di dalam hati, kita masih bertanya,
Apakah itu hidup, jika tanpa jiwa yang manusia?







