Hidup itu sangat sederhana. Kau lahir, lalu kau harus mati. Hanya dua hal itu yang diterima oleh alam. Selebihnya? Mudah. Tapi benarkah begitu? Ataukah pikiran manusialah yang merumitkan segalanya?
Pagi datang tanpa perlu kau panggil. Matahari terbit tanpa perlu kau arahkan. Jantungmu berdetak tanpa perlu kau perintah. Napasmu mengalir tanpa perlu kau pikirkan. Semuanya terjadi begitu saja, mengalir seperti sungai yang tak bertanya ke mana harus bermuara. Lalu mengapa manusia terus-menerus mengurung dirinya dalam ilusi kontrol, seakan segala sesuatu ada dalam genggamannya?
Ketika kau bangun di pagi hari, betapa rumitnya dunia yang diciptakan oleh pikiranmu. “Apa yang harus kulakukan hari ini? Bagaimana masa depanku? Apakah aku cukup baik? Apakah aku cukup berharga?” Segala pertanyaan tak perlu, padahal hidup tetap berjalan tanpa mereka. Siang datang tanpa menunggu persetujuanmu. Malam turun tanpa bertanya apakah kau siap untuk tidur atau tidak. Waktu melaju tanpa peduli apakah kau ingin berhenti atau tidak.
Hidup, pada hakikatnya, hanyalah peristiwa yang terus terjadi. Tidak perlu kau kendalikan. Tidak perlu kau paksa. Segalanya telah diatur oleh sesuatu yang lebih besar dari sekadar keinginan manusia.
Maka biarkan hidup mengalir dengan anggun. Seperti awan yang melayang di langit tanpa beban. Seperti angin yang berembus tanpa ragu. Seperti daun yang gugur tanpa tangisan. Dan ketika kematian datang, biarkan ia mengetuk pintumu dengan lembut, sambutlah ia dengan senyuman, sebagaimana kau menyambut hidup.
Hidup itu sederhana. Hanya pikiranmu yang membuatnya rumit.









