Dalam semesta yang bergerak dalam keteraturan chaos, hanya ada dua peristiwa yang diterima mutlak oleh alam: nascitura—kelahiran, dan mors inevitabilis—kematian. Di antara keduanya, kehidupan hanyalah fase transisi yang rapuh, fatamorgana eksistensi yang tak lebih dari sekejap cahaya di tengah kegelapan kosmos.
Segala yang bernapas lahir membawa determinisme biologis yang tak bisa ditawar: ia akan mati. Inilah hukum entropi, degradasi energi yang tak terelakkan. Aristoteles menyebutnya sebagai energeia, aktualisasi dari potensi yang pada akhirnya akan kembali ke asalnya—kehamparan ketiadaan. Sementara Heidegger berbicara tentang Sein-zum-Tode, keberadaan manusia yang selalu menuju kematian.
Kelahiran dan kematian adalah dua simpul di sepanjang garis waktu yang berbentuk lingkaran, sebuah ouroboros yang menggigit ekornya sendiri. Kelahiran mengantar jiwa ke dalam mundus sensibilis, dunia yang bisa dirasakan, sementara kematian menghantarkannya kembali ke mundus intelligibilis, ranah yang hanya bisa dipahami oleh esensi metafisik.
Namun, apakah kehidupan hanyalah jeda insignifikan antara dua peristiwa absolut ini? Jika eksistensi manusia hanya diukur dari awal dan akhirnya, maka ia tak lebih dari persamaan matematis tanpa variabel. Tapi justru di situlah tragedi dan keindahannya bersemayam. Dalam finis vitae, terselip makna tentang raison d’être—mengapa manusia harus hidup, meski ia tahu akan mati.
Pada akhirnya, alam tidak pernah merayakan hidup, ia hanya menerima dua hal: genesis dan exitus. Selebihnya, kita hanyalah narator tanpa kendali atas bab terakhir.









