Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

“Ittaqullah” dan “Ittaqū Rabbakum”: Pengakuan Al-Qur’an atas Eksistensi Ragam Keyakinan Manusia

munira by munira
April 25, 2025
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

“Yā ayyuhā alladhīna āmanū ittaqullāh…”
“Yā ayyuhā al-nāsu ittaqū rabbakum alladhī khalaqakum…”

Dua ayat ini, meskipun sepintas serupa dalam bentuk seruannya, memuat perbedaan makna yang amat dalam. Satu ditujukan kepada mereka yang telah beriman, satu lagi kepada seluruh umat manusia. Perbedaan ini bukan hanya soal audiens, tapi mencerminkan cara Al-Qur’an mengakui kenyataan pluralitas keyakinan yang ada di dunia, sekaligus menawarkan jalan pulang kepada Tuhan yang Esa.

“Ittaqullah”: Perintah Eksklusif untuk Mereka yang Sudah Percaya

Frasa “Ittaqullah” (اتقوا الله) kerap muncul dalam ayat-ayat yang menyeru kepada orang-orang yang telah menyatakan keimanannya:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah…”
Dalam kalimat ini, Allah disebut dengan nama-Nya yang khas dan agung: Allah, yang hanya digunakan dalam konteks tauhid.

Perintah ini tidak sedang memperkenalkan Tuhan, melainkan menguatkan relasi batin dan tanggung jawab moral orang beriman terhadap Tuhan yang sudah mereka akui. Ini adalah panggilan internal untuk menjaga kesadaran spiritual terhadap Allah dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam ibadah maupun muamalah.

“Ittaqū Rabbakum”: Seruan Universal kepada Semua Manusia

Berbeda dari itu, “Ittaqū rabbakum” (اتقوا ربكم), sering kali digunakan dalam seruan kepada seluruh manusia, seperti dalam pembukaan Surah An-Nisā:
“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa…”

Dalam ayat ini, Tuhan diperkenalkan sebagai Rabb, yaitu Pencipta, Pemelihara, dan Pengatur kehidupan—sebuah konsep yang melintasi sekat-sekat teologis dan menyentuh fitrah manusia secara universal. Allah tidak disebut dengan nama-Nya, tetapi dengan fungsi keberadaan-Nya terhadap seluruh umat manusia, tanpa memandang mereka menyembah siapa atau apa.

Pengakuan Qur’an atas Eksistensi Ragam Keyakinan

Inilah titik paling penting: Dengan menggunakan kata “Rabbakum” alih-alih “Allah”, Al-Qur’an secara tidak langsung mengakui kenyataan bahwa manusia memiliki sesembahan yang beragam. Ada yang menyembah berhala, api, langit, leluhur, bahkan dirinya sendiri. Dalam banyak tempat, Al-Qur’an tidak menafikan keberadaan itu. Ia merekognisi realitas plural, bahkan mendialoginya.

Namun, dalam pengakuan itu, Qur’an tidak menyerah pada relativisme, melainkan menegaskan: siapa pun yang kamu sembah, kamu tetap diciptakan oleh Rabb yang satu. Maka takwalah kepada Rabbakum—Tuhan sejati kalian—bukan kepada ciptaanmu sendiri.

Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukan kitab yang eksklusif dalam pendekatannya terhadap keberagaman, melainkan inklusif secara dakwah, namun tetap eksklusif dalam kebenaran tauhid.

Dialog, Bukan Pemaksaan

Dengan mengawali seruan kepada manusia dengan “Ittaqū Rabbakum”, Al-Qur’an memulai pendekatan yang bersifat dialogis dan eksistensial, bukan dogmatis dan instruktif semata. Ia mengajak manusia berpikir, merenung, dan mengenali siapa dirinya, siapa penciptanya, sebelum memasuki ruang keimanan yang lebih dalam.

Penutup: Jalan Menuju Tauhid

“Ittaqullah” adalah puncak dari perjalanan spiritual. Tapi tidak semua orang sampai ke sana dalam satu langkah. Sebelum itu, Qur’an memulai dengan “Ittaqū Rabbakum”—sebuah pintu masuk ke dalam kesadaran ilahiyah. Ia mengakui bahwa manusia memiliki banyak jalan dan keyakinan, namun tetap diarahkan menuju satu pusat: Allah, Rabb semesta alam.

Maka, dalam dua kalimat pendek itu, kita melihat bukan hanya perintah, tetapi juga strategi dakwah Qur’an yang halus namun kuat. Pengakuan atas eksistensi semua keyakinan bukanlah pembenaran atasnya, melainkan pengantar menuju kebenaran sejati.

 

ADVERTISEMENT
Previous Post

Kitab yang Tak Ditulis, Tapi Hidup

Next Post

Berdoa untuk Orang Non-Muslim yang Meninggal dalam Perspektif Syariat Islam

munira

munira

Related Posts

Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri

Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri

by munira
September 15, 2026
0

*Kita berperang sengit di dalam diri, lalu apa gunanya perang dengan orang lain?* — Jalaluddin Rumi Ada perang yang tidak...

BERJALANLAH DI BUMI, BUKAN SEKADAR KE BAITULLAH – Ketika Al-Qur’an Memerintah “Fasīrū” dan “Fantashirū”, tetapi Tidak Berkata “Berhajilah!”

BERJALANLAH DI BUMI, BUKAN SEKADAR KE BAITULLAH – Ketika Al-Qur’an Memerintah “Fasīrū” dan “Fantashirū”, tetapi Tidak Berkata “Berhajilah!”

by munira
September 14, 2026
0

Oleh: Ali Syarief Ada sesuatu yang menarik dalam cara Al-Qur’an menggunakan bahasa ketika berbicara tentang perjalanan manusia. Al-Qur’an berkali-kali menggunakan...

Kalau Doa Sudah Cukup, Mengapa Nabi Harus Berperang?

by munira
September 13, 2026
0

Oleh Ali Syarief Ada satu pertanyaan sederhana yang jarang kita ajukan dengan serius: kalau doa memang bisa menjadi jalan utama...

DI ANTARA JUBAH, HASRAT, DAN PERNIKAHAN – Ketika Kesucian Berhadapan dengan Tubuh Manusia

DI ANTARA JUBAH, HASRAT, DAN PERNIKAHAN – Ketika Kesucian Berhadapan dengan Tubuh Manusia

by munira
September 12, 2026
0

By Ali Syarief Ada paradoks tua dalam kehidupan manusia: Semakin tinggi seseorang diminta meninggalkan dunia, semakin besar pula pertanyaan tentang...

Next Post

Berdoa untuk Orang Non-Muslim yang Meninggal dalam Perspektif Syariat Islam

Kamu Akan Kalah Ketika Meremehkan Orang Lain

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri
  • BERJALANLAH DI BUMI, BUKAN SEKADAR KE BAITULLAH – Ketika Al-Qur’an Memerintah “Fasīrū” dan “Fantashirū”, tetapi Tidak Berkata “Berhajilah!”
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira