Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Keajaiban: Melampaui Logika, Merangkul Asa

munira by munira
January 24, 2025
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Dalam perjalanan hidup, sering kali kita terhenti di simpang jalan, mempertanyakan raison d’être—alasan keberadaan—di balik setiap kejadian. Ketika akal manusia terbatas dalam memahami, di sanalah keajaiban hadir, seolah membisikkan bahwa semesta memiliki cara bekerja yang melampaui logika kita.

Keajaiban bukan sekadar peristiwa spektakuler yang memukau mata, tetapi lebih dari itu, ia adalah kairos—momen ilahi yang muncul di waktu yang paling tepat. Ia bisa menjelma dalam sebuah senyuman di tengah keputusasaan, dalam hujan yang turun saat kemarau panjang, atau dalam keberanian seorang anak kecil yang melangkah tanpa takut pada dunia yang besar.

Seperti latens, sesuatu yang tersembunyi dalam kegelapan tanah, keajaiban tumbuh dalam kesunyian. Ia tidak memerlukan sorotan, tidak pula menuntut pengakuan. Ketika waktunya tiba, ia mekar—membangunkan harapan yang tertidur, merajut kembali asa yang sempat terurai.

Namun, apakah keajaiban datang tanpa sebab? Barangkali ia adalah hadiah dari semesta bagi mereka yang memiliki resilience—ketangguhan untuk terus percaya, meski badai menghantam dan gelap melingkupi. Percaya bukanlah sekadar menunggu, tetapi merawat harapan dengan tindakan, seperti petani yang menyiangi ladangnya, meski awan mendung menggelayut.

Keajaiban mengajarkan kita untuk menerima keterbatasan sekaligus memeluk keajaiban dalam ketidaktahuan. Ia adalah hybris yang terkendali—pengakuan atas kekuatan yang lebih besar dari kemampuan kita untuk mengontrol. Dan di sanalah letak keindahannya—bahwa hidup ini tidak sepenuhnya milik kita, melainkan milik suatu harmoni yang lebih agung.

Dalam semiotika kehidupan, keajaiban adalah jembatan antara manusia dan Tuhan, antara physis (alamiah) dan nous (pikiran). Ia adalah sebuah jeda, di mana logika menyerah dan iman mengambil alih. Saat kita berhenti bertanya “*cómo?”—bagaimana?”—dan mulai percaya pada “*por qué?”—mengapa?”, di sanalah kita menemukan keajaiban sejati.

Maka, peluklah keajaiban, bukan dengan mendewakannya, tetapi dengan menyadari bahwa ia adalah bagian dari alur kehidupan yang mengajarkan kita untuk selalu bersyukur. Sebab, keajaiban sejati bukan hanya tentang sesuatu yang besar dan tak terduga, tetapi tentang melihat kehidupan ini sebagai miraculum—keajaiban itu sendiri.

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Menguak Tirai Takdir: Antara Dusta dan Kebodohan

Next Post

Jagalah paruhmu. Kokohkan kakimu. Bentangkan sayapmu.

munira

munira

Related Posts

Jangan Petik Bunga Itu: Ia Adalah Kelamin

Iman Tanpa Akal: Jalan Pintas Menuju Kesesatan Riwayat

by munira
January 12, 2026
0

Ada satu kebiasaan berbahaya yang kian tumbuh di ruang-ruang dakwah modern: menerima setiap riwayat atas nama “katanya Nabi” tanpa bertanya,...

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

by munira
January 11, 2026
0

Banyak orang menyebut perceraian sebagai nasib. Seolah ia adalah badai yang datang tanpa diundang, merobohkan rumah tangga yang awalnya tampak...

Takdir Itu Pilihan

Takdir Itu Pilihan

by munira
January 10, 2026
0

Sejak kecil kita dijejali satu kalimat yang terdengar sakral: “Itu sudah takdir.”Kalimat ini sering menjadi penutup dari pertanyaan yang tak...

Sehelai Rasa yang Tersisa

Sehelai Rasa yang Tersisa

by munira
January 10, 2026
0

Aku pernah bersumpahtak akan mengikat lagihati yang sudah letihpada janji bernama selamanya. Lalu kau hadirseperti senjayang tak kupintanamun indah terlanjur...

Next Post
Jagalah paruhmu. Kokohkan kakimu. Bentangkan sayapmu.

Jagalah paruhmu. Kokohkan kakimu. Bentangkan sayapmu.

Pendidikan dan Kebahagiaan: Antara Sarjana yang Gelisah dan Penyapu Jalan yang Damai

Pendidikan dan Kebahagiaan: Antara Sarjana yang Gelisah dan Penyapu Jalan yang Damai

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Iman Tanpa Akal: Jalan Pintas Menuju Kesesatan Riwayat
  • Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira