Aku lebih senang melihat sekolah menghasilkan penyapu jalan yang bahagia, ketimbang sarjana yang sakit jiwa. Karena hidup ini, pada akhirnya, bukan tentang seberapa tinggi seseorang berdiri, tetapi seberapa damai ia melangkah.
Dalam kelas-kelas yang penuh dengan angka dan teori, kita sering lupa pada joie de vivre—seni menikmati hidup. Kita mengajarkan hard skills, tetapi lalai menanamkan emotional intelligence. Anak-anak dibentuk menjadi mesin yang efisien, bukan manusia yang peka terhadap kebahagiaan dirinya sendiri.
Kita telah membangun alma mater yang megah, namun gagal melahirkan jiwa-jiwa yang kuat. Kita mencetak sarjana dengan curriculum vitae yang gemilang, tetapi sering kali mereka berakhir dalam existential crisis, bertanya-tanya: Untuk apa semua ini? Mereka memiliki status quo yang tinggi, tetapi tidak tahu bagaimana menemukan peace of mind.
Sementara itu, seorang penyapu jalan yang memahami ikigai—alasan keberadaannya—bisa jadi lebih damai daripada seorang direktur yang bergelut dengan burnout. Ia mungkin tak mengenal Maslow’s hierarchy of needs, tetapi ia telah mencapai self-actualization dalam bentuknya yang paling sederhana: mencintai pekerjaannya tanpa terjebak dalam ambisi yang tak berujung.
Di penghujung hidup nanti, tidak ada yang bertanya: “Seberapa tinggi gelarmu?”, yang ada hanyalah: “Apakah engkau telah hidup dengan bahagia?”
Maka, untuk apa memproduksi sarjana yang terjebak dalam rat race, kehilangan joie de vivre, dan tak tahu bagaimana menikmati dolce far niente—keindahan dalam diam? Lebih baik sekolah-sekolah kita melahirkan manusia yang mengerti the art of living: hidup dengan keseimbangan, dengan makna, dan dengan hati yang ringan.
Karena hidup bukan tentang siapa yang paling tinggi berdiri, tapi siapa yang paling damai dalam melangkah.









