Kata Hatiku
Ada satu titik dalam perjalanan manusia,
di mana kerja bukan lagi sekadar tuntutan,
bukan sekadar tangga menuju puncak,
tetapi menjadi cerminan diri yang paling jujur.
Ia yang telah mencapai titik ini,
bekerja bukan demi gelar atau gemuruh tepuk tangan,
bukan pula demi menaklukkan yang lain,
melainkan sebagai tarian jiwanya sendiri.
Ia mencintai pekerjaannya seperti seorang petani mencintai tanahnya,
bukan karena ingin menguasainya,
tetapi karena di sanalah hidup mengalir,
akar tumbuh, benih berubah menjadi panen.
Tak ada resah mengejar batas yang terus bergerak,
tak ada kegelisahan dihantui bayangan orang lain.
Ia bekerja dengan tenang, seperti sungai yang setia mengalir,
bukan untuk tiba, tetapi karena mengalir adalah hakikatnya.
Di sinilah ia menemukan diri,
bukan dalam kemenangan atas dunia,
tetapi dalam keselarasan antara tangan, hati, dan makna.
Maka ia pun bebas—karena telah selesai dengan ambisi,
dan sepenuhnya hadir dalam karyanya.








