Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Kebahagiaan Sejati Adalah Residu dari Harta yang Melimpah???

munira by munira
January 17, 2025
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Di tengah riuh rendah zaman modern, manusia sering terjebak dalam labirin ilusif bernama kemewahan. Narasi kehidupan kontemporer menggiring kita pada sebuah dogma bahwa kebahagiaan sejati adalah residu dari harta yang melimpah. Namun, benarkah demikian? Adakah kekayaan benar-benar menjadi kunci tunggal menuju eudaimonia—kebahagiaan sejati seperti yang diungkapkan Aristoteles?

Lihatlah mereka yang berjubah sutra, melangkah di atas karpet merah, berhiaskan gemerlap berlian. Di balik senyum yang tampak sempurna, terselip jejak-jejak ennui, kehampaan yang tak terdefinisikan. Kekayaan, meski tampak sebagai oasis, sering kali hanyalah fatamorgana yang menipu. Ia mampu membeli segala sesuatu, kecuali jiwa yang tenang dan hati yang lapang. Riches may fill the wallet, but seldom the soul.

Sebaliknya, di sudut-sudut sunyi dunia, ada mereka yang mungkin tak memiliki apa-apa, kecuali hati yang penuh syukur. Anak kecil di desa, tertawa riang hanya dengan bola dari anyaman daun kelapa. Petani tua, memetik hasil panennya dengan senyum penuh makna, meski punggungnya telah bungkuk oleh kerasnya hidup. Kebahagiaan mereka sederhana namun autentik, lahir dari jiwa yang contentus, merasa cukup dan berserah pada takdir.

Dunia modern sering kali membelenggu kita dengan consumerism, sebuah pandangan sempit yang membuat manusia mengejar hal-hal material tanpa henti. Namun, pada akhirnya, kebahagiaan adalah soal equilibrium—keseimbangan antara keinginan dan penerimaan. Bagi yang bijak, kekayaan sejati bukanlah tumpukan emas, tetapi jiwa yang bebas dari belenggu keinginan berlebih.

Sebagaimana dikatakan oleh Seneca, “It is not the man who has too little, but the man who craves more, that is poor.” Maka, kekayaan sejati adalah saat kita menemukan kebahagiaan dalam hal-hal yang sederhana. Seperti secangkir kopi pagi, pelukan hangat keluarga, atau doa lirih di sepertiga malam.

Di dunia yang terus bergulir ini, kita dihadapkan pada pilihan: menjadi kaya namun hampa, atau sederhana namun bahagia. Tidak semua yang bahagia adalah orang kaya, dan tidak semua orang kaya merasakan bahagia. Karena kebahagiaan, de facto, adalah harta yang hanya bisa ditemukan oleh mereka yang memahami seni menikmati hidup, bukan sekadar memilikinya.

Kita adalah pencipta kebahagiaan kita sendiri. Dan sejatinya, harta terbesar bukanlah apa yang kita miliki, melainkan apa yang kita syukuri.

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Hidup Seperti Mimpi yang Abadi

Next Post

Makanan Sebagai Obat atau Obat Sebagai Makanan

munira

munira

Related Posts

Jangan Petik Bunga Itu: Ia Adalah Kelamin

Iman Tanpa Akal: Jalan Pintas Menuju Kesesatan Riwayat

by munira
January 12, 2026
0

Ada satu kebiasaan berbahaya yang kian tumbuh di ruang-ruang dakwah modern: menerima setiap riwayat atas nama “katanya Nabi” tanpa bertanya,...

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

by munira
January 11, 2026
0

Banyak orang menyebut perceraian sebagai nasib. Seolah ia adalah badai yang datang tanpa diundang, merobohkan rumah tangga yang awalnya tampak...

Takdir Itu Pilihan

Takdir Itu Pilihan

by munira
January 10, 2026
0

Sejak kecil kita dijejali satu kalimat yang terdengar sakral: “Itu sudah takdir.”Kalimat ini sering menjadi penutup dari pertanyaan yang tak...

Sehelai Rasa yang Tersisa

Sehelai Rasa yang Tersisa

by munira
January 10, 2026
0

Aku pernah bersumpahtak akan mengikat lagihati yang sudah letihpada janji bernama selamanya. Lalu kau hadirseperti senjayang tak kupintanamun indah terlanjur...

Next Post
Makanan Sebagai Obat atau Obat Sebagai Makanan

Makanan Sebagai Obat atau Obat Sebagai Makanan

Tiga Aturan Dasar Kehidupan: Janji, Amarah, dan Keputusan

Tiga Aturan Dasar Kehidupan: Janji, Amarah, dan Keputusan

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Iman Tanpa Akal: Jalan Pintas Menuju Kesesatan Riwayat
  • Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira