Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Kecerdasan Rendah dalam Ekspresi dan Logika

Redaksi by Redaksi
January 5, 2025
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Ada kalanya kita terjebak dalam ironi kehidupan, ketika kata-kata meluncur dari bibir manusia, namun tak berakar pada logika yang kokoh. Dalam kebodohan yang menyelimut, mereka bersandar pada frasa yang seolah memancarkan kuasa, tetapi vox nihili—suara tanpa arti—tanpa landasan yang mendalam.

Bayangkan, di suatu sore yang tenang, kita melintas di depan sebuah rumah sederhana. Di sana, seekor anjing kecil melongok dari halaman tanpa pagar, seperti pengawal kecil yang salah memahami tugasnya. Kita memilih jalan aman, menepi ke sisi lain jalan, menghindari sengketa. Tetapi, tanpa peduli garis batas yang nyata, anjing-anjing itu melompat keluar, mengejar bayang-bayang, menggonggong tanpa arah, dan mendekati anjing kita yang hanya memberi geraman peringatan.

Lalu terdengarlah sebuah suara—bukan dari anjing, tetapi dari manusia di seberang. Kalimat penuh keyakinan melesat: “Kalian ada di properti kami!” Sebuah pernyataan yang menggelegar, tetapi sayangnya, sama sekali tidak benar. Jalan umum adalah milik semua, bukan wilayah pribadi.

Namun di situlah inti dari kecerdasan rendah. Sebuah kalimat yang diucapkan seolah menjadi ipse dixit—“karena saya berkata demikian”—tanpa memerlukan fakta atau logika. Sebuah klaim, meski keliru, dianggap cukup kuat untuk menaklukkan argumen.

Aku sering merenung, apa yang membuat sebagian manusia terperosok dalam pola pikir semacam ini? Adakah karena kemalasan intelektual? Atau keinginan untuk menang tanpa usaha? Dalam dunia yang semestinya diwarnai oleh pengetahuan dan diskusi, pola seperti ini mengkhawatirkan.

Kecerdasan rendah adalah ketidakmampuan untuk berpikir dalam konteks rasional. Mereka tak memahami bahwa kebenaran tak bisa dibentuk hanya melalui kalimat yang diucapkan. Layaknya anjing kecil yang menggonggong pada bayangannya sendiri, mereka hidup dalam dunia yang dikuasai oleh asumsi dan ego, bukan oleh akal.

Fenomena ini menjadi contoh nyata dari confirmation bias—kecenderungan untuk percaya pada sesuatu yang sejalan dengan keyakinan pribadi tanpa memedulikan fakta objektif. Yang lebih menyedihkan, dunia yang terisi oleh manusia seperti ini menciptakan ketakutan tersendiri. Sebab, mereka percaya bahwa kata-kata tanpa dasar bisa menjadi hukum. Bagaimana kita menghadapi kenyataan ini?

Mungkin, jawabannya ada pada kesabaran. Kesabaran untuk mengedukasi, untuk mengingatkan bahwa kebenaran tidak pernah bisa dimanipulasi oleh lidah. Kebenaran butuh bukti, butuh pemikiran, butuh logika. Dan di situlah, manusia sejati menemukan kebijaksanaan.

“Menang tanpa logika adalah kekalahan sejati.”

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Keajaiban Kebaikan Kecil: Merawat Kehidupan dengan Ketulusan

Next Post

Menang Tanpa Logika, Kekalahan Sejati

Redaksi

Redaksi

Related Posts

Jangan Petik Bunga Itu: Ia Adalah Kelamin

Iman Tanpa Akal: Jalan Pintas Menuju Kesesatan Riwayat

by munira
January 12, 2026
0

Ada satu kebiasaan berbahaya yang kian tumbuh di ruang-ruang dakwah modern: menerima setiap riwayat atas nama “katanya Nabi” tanpa bertanya,...

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

by munira
January 11, 2026
0

Banyak orang menyebut perceraian sebagai nasib. Seolah ia adalah badai yang datang tanpa diundang, merobohkan rumah tangga yang awalnya tampak...

Takdir Itu Pilihan

Takdir Itu Pilihan

by munira
January 10, 2026
0

Sejak kecil kita dijejali satu kalimat yang terdengar sakral: “Itu sudah takdir.”Kalimat ini sering menjadi penutup dari pertanyaan yang tak...

Sehelai Rasa yang Tersisa

Sehelai Rasa yang Tersisa

by munira
January 10, 2026
0

Aku pernah bersumpahtak akan mengikat lagihati yang sudah letihpada janji bernama selamanya. Lalu kau hadirseperti senjayang tak kupintanamun indah terlanjur...

Next Post
Menang Tanpa Logika, Kekalahan Sejati

Menang Tanpa Logika, Kekalahan Sejati

Dalam Tiap Aksi, Kita Mengubah Ilmu Menjadi Emas Kehidupan.

Dalam Tiap Aksi, Kita Mengubah Ilmu Menjadi Emas Kehidupan.

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Iman Tanpa Akal: Jalan Pintas Menuju Kesesatan Riwayat
  • Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira