Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

KETIKA KEMASAN LEBIH PENTING DARIPADA ISI

munira by munira
September 18, 2026
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

“Kita hidup di dunia di mana pemakaman lebih penting daripada kematian, pernikahan lebih penting daripada cinta, dan penampilan fisik lebih penting daripada akal budi. Kita hidup dalam budaya kemasan yang meremehkan isi.” — Eduardo Galeano

Ketika Dunia Terlalu Sibuk dengan Kemasan

Kita hidup di zaman ketika apa yang terlihat sering kali lebih berharga daripada apa yang sesungguhnya ada.

Pemakaman dirayakan dengan kemegahan, sementara semasa hidup seseorang mungkin kesepian, terabaikan, bahkan tidak pernah benar-benar didengarkan. Bunga-bunga berdatangan ketika tubuh telah terbujur kaku, tetapi kasih sayang sering terlambat disampaikan ketika seseorang masih mampu merasakan.

Bukankah ada ironi yang menyakitkan di sana?

Kita terkadang lebih pandai menghormati kematian daripada memuliakan kehidupan.

Pernikahan pun tak luput dari perlombaan kemasan. Gedung yang megah, gaun yang indah, dekorasi yang mahal, dan dokumentasi yang sempurna. Semua disiapkan dengan cermat agar tampak memesona di mata dunia.

Namun, di balik gemerlap pesta, apakah cinta sungguh telah menemukan rumahnya?

Sebab pernikahan bukan hanya tentang dua manusia yang berdiri di hadapan para tamu, melainkan tentang dua jiwa yang bersedia saling menemani ketika tepuk tangan telah berhenti. Tentang kesetiaan pada hari-hari yang tidak memiliki bunga, musik, dan sorotan kamera.

Pesta dapat disaksikan banyak orang. Cinta justru diuji dalam kesunyian.

Demikian pula penampilan fisik. Dunia modern sering menjadikan wajah sebagai ukuran pertama, tubuh sebagai komoditas, dan usia sebagai alasan untuk mengurangi nilai seseorang. Kita diajari mempercantik yang tampak, tetapi tidak selalu diajak memperdalam yang tak kasatmata.

Kita sibuk merawat wajah, tetapi lupa merawat cara memandang sesama.

Kita mengkhawatirkan kerutan di dahi, tetapi tidak selalu gelisah terhadap kekasaran dalam ucapan. Kita menghitung penampilan dari cermin, tetapi lupa bahwa akal budi tercermin dari cara kita memperlakukan mereka yang tidak memiliki kekuasaan.

Padahal, wajah akan menua. Tubuh akan melemah. Rambut akan memutih. Namun, kebaikan yang pernah kita tanam dapat terus hidup dalam ingatan orang lain.

Keindahan fisik mungkin mengundang pandangan, tetapi akal budi menentukan apakah seseorang layak dihormati.

Budaya yang Mengagungkan Bungkus

Kita sedang berhadapan dengan budaya kemasan: sebuah dunia yang semakin terampil membungkus, tetapi tidak selalu bersungguh-sungguh mengisi.

Gagasan dikalahkan oleh penampilan. Kebenaran dikalahkan oleh popularitas. Substansi dikalahkan oleh sensasi.

Seseorang bisa tampak meyakinkan tanpa memiliki kedalaman pemikiran. Sebuah pernyataan dapat terdengar indah tanpa mengandung kejujuran. Sebuah institusi dapat memajang citra yang bersih, sementara di dalamnya menyimpan persoalan yang tak pernah diselesaikan.

Di media sosial, kita melihat kehidupan yang telah dipoles sedemikian rupa. Senyum yang selalu tampak sempurna, perjalanan yang selalu terlihat menyenangkan, dan keberhasilan yang seolah tidak pernah mengenal kegagalan.

Tetapi hidup manusia bukanlah etalase.

Di balik setiap foto, mungkin ada kecemasan. Di balik tawa, mungkin ada luka. Di balik penampilan yang sempurna, mungkin ada jiwa yang sedang mencari makna.

Kita tidak perlu membenci keindahan. Kita juga tidak harus menolak kemajuan, pesta, atau penampilan yang terawat. Yang perlu kita pertanyakan adalah ketika kemasan mengambil alih seluruh nilai, ketika yang tampak menjadi satu-satunya ukuran untuk menilai manusia.

Sebab kemasan yang indah tanpa isi hanyalah ruang kosong yang dipoles dengan cahaya.

Mengembalikan Kehormatan kepada Isi

Mungkin sudah waktunya kita belajar kembali melihat lebih dalam.

Menghargai seseorang bukan semata-mata karena pakaian yang dikenakannya, jabatan yang disandangnya, atau jumlah pengikut yang dimilikinya. Melainkan karena kejujuran, kebijaksanaan, keberanian, dan kepedulian yang tumbuh dalam dirinya.

Mungkin kita perlu lebih sering bertanya:

Apakah kita telah menjadi manusia yang baik, bukan hanya manusia yang terlihat baik?

Apakah kita telah memberi makna kepada kehidupan, bukan sekadar mengumpulkan pengakuan?

Apakah kita hadir bagi orang lain ketika mereka membutuhkan, bukan hanya ketika mereka telah tiada?

Pada akhirnya, kehidupan tidak diukur dari seberapa sempurna kita membungkus diri, melainkan dari seberapa berarti isi yang kita tinggalkan.

Bukan berapa banyak mata yang memandang kita, tetapi berapa banyak hati yang pernah kita sentuh.

Bukan seberapa megah pesta yang kita selenggarakan, tetapi seberapa tulus cinta yang kita pelihara.

Bukan seberapa muda wajah kita bertahan, tetapi seberapa matang kebijaksanaan yang tumbuh bersama perjalanan usia.

Dan ketika suatu hari nanti kita meninggalkan dunia, semoga yang dikenang bukan hanya nama, foto, atau upacara yang megah.

Semoga ada seseorang yang berkata:

“Ia pernah hadir. Ia pernah mendengarkan. Ia pernah menolong. Dan dunia terasa sedikit lebih baik karena pernah mengenalnya.”

Sebab pada akhirnya, manusia bukanlah kemasan.

Manusia adalah isi yang perlahan dibentuk oleh pilihan, pengalaman, cinta, dan cara ia memperlakukan kehidupan.

Dan barangkali, itulah pelajaran yang paling sering kita lupakan: jangan sampai kita terlalu sibuk memperindah apa yang terlihat, hingga kehilangan kesempatan untuk memperkaya apa yang sebenarnya penting.

ADVERTISEMENT
Previous Post

Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri

munira

munira

Related Posts

Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri

Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri

by munira
September 15, 2026
0

*Kita berperang sengit di dalam diri, lalu apa gunanya perang dengan orang lain?* — Jalaluddin Rumi Ada perang yang tidak...

BERJALANLAH DI BUMI, BUKAN SEKADAR KE BAITULLAH – Ketika Al-Qur’an Memerintah “Fasīrū” dan “Fantashirū”, tetapi Tidak Berkata “Berhajilah!”

BERJALANLAH DI BUMI, BUKAN SEKADAR KE BAITULLAH – Ketika Al-Qur’an Memerintah “Fasīrū” dan “Fantashirū”, tetapi Tidak Berkata “Berhajilah!”

by munira
September 14, 2026
0

Oleh: Ali Syarief Ada sesuatu yang menarik dalam cara Al-Qur’an menggunakan bahasa ketika berbicara tentang perjalanan manusia. Al-Qur’an berkali-kali menggunakan...

Kalau Doa Sudah Cukup, Mengapa Nabi Harus Berperang?

by munira
September 13, 2026
0

Oleh Ali Syarief Ada satu pertanyaan sederhana yang jarang kita ajukan dengan serius: kalau doa memang bisa menjadi jalan utama...

DI ANTARA JUBAH, HASRAT, DAN PERNIKAHAN – Ketika Kesucian Berhadapan dengan Tubuh Manusia

DI ANTARA JUBAH, HASRAT, DAN PERNIKAHAN – Ketika Kesucian Berhadapan dengan Tubuh Manusia

by munira
September 12, 2026
0

By Ali Syarief Ada paradoks tua dalam kehidupan manusia: Semakin tinggi seseorang diminta meninggalkan dunia, semakin besar pula pertanyaan tentang...

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • KETIKA KEMASAN LEBIH PENTING DARIPADA ISI
  • Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira