Parenting sering kali disalahpahami sebagai tindakan menggenggam erat, melindungi anak dari segala tantangan hidup, dan selalu ada untuk menangkap mereka saat terjatuh. Namun, sejatinya, menjadi orang tua adalah seni melepaskan—sebuah proses lembut di mana kita belajar untuk memberi ruang agar anak menemukan pijakannya sendiri. Melepaskan bukan berarti meninggalkan, melainkan percaya bahwa pelajaran yang kita tanamkan akan menjadi kompas bagi mereka di jalan yang mereka tempuh. Dalam peran seorang ayah, misalnya, bukan tentang menjadi pelindung yang terus-menerus, tetapi menjadi pemandu yang sunyi, mengajarkan anak-anaknya tentang kekuatan untuk berdiri sendiri.
Di sinilah kita dihadapkan pada tantangan besar dalam kehidupan: **jadilah satu dengan dirimu sendiri.** Sebuah langkah awal dari perjalanan mistis menuju kesatuan dengan semesta, yang pada kenyataannya, jauh lebih sulit dari yang terlihat. Mengapa? Karena sejak kecil, kita telah ditempa oleh berbagai pengondisian yang menjauhkan kita dari keaslian diri. Pendidikan, norma sosial, dan harapan masyarakat menekan kita untuk menjadi sesuatu yang bukan diri kita. Ketika sedih, misalnya, kita diajarkan untuk menutupi kesedihan itu, berpura-pura bahagia agar orang-orang di sekitar kita merasa nyaman. Kita diajarkan bahwa kesedihan adalah sesuatu yang buruk, sesuatu yang harus dilawan. Akhirnya, kita tumbuh menjadi individu yang terpecah antara diri yang sebenarnya dan diri yang ideal, atau setidaknya, diri yang diterima oleh orang lain.
Dalam melepaskan anak-anak kita, kita juga harus belajar melepaskan diri kita sendiri dari tuntutan untuk selalu kuat, selalu benar, atau selalu bahagia. **Jadilah satu dengan dirimu sendiri**, artinya menerima siapa dirimu pada saat ini, tanpa menghakimi, tanpa berpura-pura. Ketika kita sedih, terimalah kesedihan itu sepenuhnya, tanpa mencoba melawannya. “Aku adalah kesedihan,” bukan sekadar, “Aku merasa sedih.” Karena ketika kita mencoba memisahkan diri dari emosi kita, kita menciptakan konflik batin yang hanya menambah penderitaan. Tapi jika kita bisa menerima perasaan itu dengan kejujuran, kita akan menemukan rahmat di dalamnya.
Inilah pelajaran besar yang dapat diterapkan dalam parenting: kita mengajarkan anak-anak kita untuk menjadi mandiri, untuk berani menghadapi dunia yang tak selalu pasti, tetapi kita juga harus menunjukkan kepada mereka bahwa menjadi mandiri berarti juga menerima diri mereka sepenuhnya—baik dalam kebahagiaan maupun kesedihan. Sebagaimana seorang ayah yang bijaksana mengajarkan kepada anaknya bahwa kekuatan sejati tidak hanya terletak pada kemandirian, tetapi juga pada kebijaksanaan untuk mengetahui kapan harus mencari dukungan. Dalam mengajarkan ini, sang ayah tak hanya mempersiapkan anaknya untuk bertahan hidup, tetapi untuk berkembang dengan cara mereka sendiri.
Dan di balik semua ini, ada kebenaran yang lebih mendalam: kita tidak bisa mengajarkan anak-anak kita untuk menemukan diri mereka sendiri jika kita sendiri belum bisa menjadi satu dengan diri kita. Bagaimana mungkin kita bisa membimbing mereka menuju keaslian diri jika kita sendiri terus hidup dalam bayang-bayang pengondisian sosial? Ketika kita melepaskan topeng-topeng yang kita kenakan, kita akan mendapati bahwa hidup ini jauh lebih sederhana dan penuh rahmat. Kita tak perlu berpura-pura bahagia. Kebahagiaan yang sejati datang ketika kita bisa menjalani setiap momen, baik itu penuh sukacita maupun penuh kesedihan, dengan keaslian.
Melepaskan anak untuk menemukan jalannya sendiri adalah bentuk tertinggi dari cinta. Seperti juga melepaskan harapan dan tuntutan pada diri kita sendiri. Ketika kita melepaskan, kita mempercayai bahwa pelajaran hidup yang kita tanamkan—baik kepada anak-anak kita maupun kepada diri kita sendiri—akan menjadi fondasi yang kokoh untuk menghadapi dunia. Dan hanya ketika kita benar-benar **menjadi satu dengan diri kita**, barulah kita bisa sepenuhnya melepaskan, percaya bahwa mereka, dan kita sendiri, akan menemukan jalan menuju keutuhan dan kesatuan dengan semesta.








