Di atas kepala para peziarah di Mekkah, ribuan topi putih terlihat menyembul seperti buih di tengah lautan manusia. Peci haji, atau kopiah putih itu, sederhana bentuknya—bundar, tanpa pinggiran, dan tak jarang dihiasi bordiran halus. Tapi ada yang menarik. Jika kita amati lebih cermat, siluet topi ini punya kemiripan visual yang ganjil dengan mitre—topi tinggi yang dikenakan Paus atau para uskup Katolik Roma dalam liturgi suci.
Pertanyaannya: mengapa dua simbol keagamaan dari dua tradisi yang sangat berbeda itu terlihat saling bersinggungan, bahkan sepintas seperti berasal dari lemari kostum yang sama?
Dalam sejarah peradaban, simbol bukan sekadar tanda. Ia adalah artefak makna. Dan topi—sebagai penutup kepala—selalu membawa konotasi spiritual. Ia menandai penghormatan kepada sesuatu yang lebih tinggi, dalam hal ini: Tuhan.
Dalam Islam, mengenakan kopiah saat salat atau haji tidak wajib, tapi sangat dianjurkan. Ia menandakan kesopanan dan ketundukan. Dalam banyak tradisi Islam, terutama di wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara, peci putih menjadi identitas spiritual: tanda bahwa pemakainya telah menunaikan rukun Islam kelima, dan karena itu, telah “naik kelas” dalam hal ketakwaan sosial.
Di ujung lain peta iman, Paus dan para uskup mengenakan mitre—topi runcing yang menjulang—sebagai lambang otoritas apostolik. Ia adalah simbol keluhuran jabatan rohani, warisan dari para rasul. Konon, bentuk runcingnya menyerupai lidah api Pentakosta, lambang hadirnya Roh Kudus.
Sekilas, tak ada yang sama. Tapi jika kita tarik mundur, keduanya mungkin berasal dari akar tradisi yang saling menjalin. Di era sebelum agama-agama samawi mapan, masyarakat Timur Tengah dan Mediterania sudah mengenal simbol tutup kepala sebagai tanda keagungan rohani. Para imam Yahudi kuno memakai tutup kepala khusus saat masuk ke Bait Suci. Bangsa Mesir kuno pun menempatkan mahkota di kepala firaun sebagai perpanjangan tangan dewa-dewa langit.
Lalu agama-agama besar lahir dan tumbuh di tanah yang sama. Islam dan Kristen mewarisi lebih banyak dari lingkungan sosial-budaya mereka ketimbang yang sering kita sadari. Termasuk dalam hal busana ibadah.
Kesamaan topi ini mungkin tidak disengaja. Tapi ia seperti simbol kebetulan yang berbicara lebih keras dari pidato toleransi mana pun. Bahwa ketika manusia mencoba meraih Yang Maha Tinggi, cara kita menundukkan kepala ternyata tidak terlalu berbeda. Kita mengenakan topi. Kita membungkuk. Kita menyimbolkan keterbatasan di hadapan Yang Tak Terbatas.
Dan siapa tahu, barangkali Tuhan pun tersenyum melihat anak-anak-Nya yang masih bertengkar soal siapa yang paling benar, padahal topinya saja nyaris sama.




