Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Di Antara Hidup dan Mati, Tak Ada Garis Pemisah

munira by munira
April 21, 2025
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Di antara hidup dan mati, tidak ada garis tegas. Kehidupan bukan soal hitam-putih, bukan tentang terang dan gelap yang terpisah dengan garis batas. Hari ini aku bisa berkata, “Aku hidup.” Tapi dalam nafas yang sama, aku pun bisa berkata, “Aku sedang sekarat.” Dua pernyataan ini tidak saling meniadakan. Keduanya bisa benar dalam waktu yang bersamaan. Karena hidup dan mati bukan dua ruang yang terpisah, tapi dua sisi dari satu keberlangsungan. Satu tarikan nafas mendekatkanku pada kehidupan, satu hembusan membawa aku ke kematian.

Suatu hari nanti, segalanya akan mencapai kesempurnaan: ya, atau tidak. Keberadaan akan usai, dan pertanyaan akan hilang. Tapi sekarang, yang penting bukan jawaban akhir, melainkan kesadaran akan yang eksistensial. Apa yang benar-benar ada saat ini? Apa yang nyata di balik semua bayangan?

Aku mengingat hari kemarin. Pengalaman, perasaan, luka dan tawa—semua itu hidup dalam memoriku. Tapi bukankah itu hanya proses psikologis? Bukan realitas yang sedang berlangsung, melainkan kenangan yang dipanggil kembali oleh pikiran. Demikian pula saat aku membayangkan hari esok, merancang rencana, berharap atau mencemaskan masa depan. Itu juga hanyalah proses psikologis. Imajinasi. Balon pikiran yang bisa meletus sewaktu-waktu.

Tak ada yang keliru dengan mengingat atau merancang. Itu bagian dari menjadi manusia. Tapi yang lebih penting adalah menyadari bahwa itu bukan kenyataan. Yang nyata adalah ini: aku sedang bernapas. Di sini, sekarang, napas masuk dan keluar. Ini bukan memori. Ini bukan imajinasi. Ini adalah eksistensi. Fakta fisik yang sedang terjadi.

Bila kita mampu membedakan antara silo kenangan dan balon imajinasi, maka kesadaran akan menemukan fondasinya. Kita tidak lagi tenggelam dalam arus waktu yang semu. Kita hadir. Kita ada.

Kesadaran seperti ini—yang hidup dalam saat ini, dalam kehadiran penuh—adalah gerbang menuju keajaiban pikiran. Pikiran yang tidak lagi menjadi sumber penderitaan, tapi sumber ekstasi. Bukan ekstasi yang liar dan sementara, tetapi ekstasi yang lahir dari keheningan. Sebuah rasa syukur yang muncul karena kita menyadari bahwa kita ada.

Kebanyakan penderitaan muncul bukan dari apa yang terjadi saat ini, tapi dari apa yang kita ingat atau bayangkan. Dari luka masa lalu dan kecemasan masa depan. Padahal, saat ini—saat kita bernapas dengan sadar—tidak ada luka, tidak ada ketakutan. Hanya kehadiran.

Dengan kesadaran itu, kita tidak akan lagi menciptakan neraka di dalam batin kita sendiri. Kita akan menjadi pencipta kebahagiaan, bukan perusak kedamaian. Kita tidak perlu menunggu kematian untuk mengenal keheningan. Dalam hidup pun, keheningan itu bisa hadir. Dan di sanalah keajaiban sebenarnya dimulai.

 

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Mengapa Topi Haji Mirip dengan Topi Paus?

Next Post

Tuhan Sebagai Keberadaan yang Melampaui: Tafsir Keilahian dalam Kebersamaan

munira

munira

Related Posts

Rumah yang Tidak Mengenal Bentakan

by munira
July 25, 2026
0

Ada warisan yang tak pernah tercatat dalam akta kelahiran. Ia tidak disimpan di lemari besi, tidak pula diwariskan melalui harta...

Celup Celana Corduroy

by munira
July 24, 2026
0

Oleh: Ali Syarief Celana corduroy adalah celana favorit saya. Bahannya lembut, hangat, dan semakin lama dipakai justru semakin nyaman. Celana...

Pohon yang Tak Pernah Menyerah

by munira
July 21, 2026
0

Ada masa ketika hidup terasa seperti musim gugur. Satu demi satu yang kita cintai terlepas dari genggaman. Kesempatan menghilang, harapan...

Dunia Bukan Ruang Tunggu, Melainkan Tempat Membangun Peradaban

by munira
July 19, 2026
0

Oleh: Nazaruddin Ada cara pandang yang diam-diam membuat manusia kehilangan makna hidup. Dunia dipersepsikan sekadar ruang transit, terminal keberangkatan, atau...

Next Post

Tuhan Sebagai Keberadaan yang Melampaui: Tafsir Keilahian dalam Kebersamaan

Ketika Ketakutan Menjadi Cermin Kekuasaan: Dari Jokowi, Suharto, hingga Nixon

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Rumah yang Tidak Mengenal Bentakan
  • Celup Celana Corduroy
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira