Konon, manusia diberkahi dengan hati nurani sebagai kompas batin. Tapi entah bagaimana, kompas zaman sekarang sepertinya sudah dimodifikasi: jarumnya lebih suka menunjuk ke bawah, tempat di mana nafsu dan kepentingan pribadi berkumpul seperti arisan elit—meriah, ramai, dan penuh strategi culas. Arah ke tengah, tempat moral seharusnya duduk manis sebagai titik keseimbangan, kini hanya sesekali disinggahi, itu pun seperti mampir ke warung sebentar—sekadar basa-basi.
Sementara itu, arah ke atas? Ke tempat akhlak tinggal dan menunggu dengan sabar? Ah, jangan terlalu berharap. Jarum itu enggan menengadah, barangkali takut silau oleh cahaya tanggung jawab, takut tertusuk oleh idealisme, atau mungkin cuma pegal karena terlalu lama terbiasa membungkuk pada kekuasaan dan fulus.
Kita hidup di zaman ketika “pragmatisme” dipuja laksana dewa baru. Bahkan ada yang bilang, kalau bisa sukses dengan memotong tikungan dan menyingkirkan moral di persimpangan, mengapa harus repot-repot lewat jalan lurus? Jalan berliku, gelap, penuh jebakan nafsu, justru dianggap jalan tol menuju kemenangan. Selamat datang di republik kompas miring.
Di sini, yang punya prinsip malah dituduh sok suci. Yang punya akhlak dicap tak fleksibel. Yang berbicara tentang nilai-nilai, segera dibisiki, “Itu nggak laku, Bro.” Moral dianggap barang antik, cocok dipajang di museum, bukan dijalani. Sementara akhlak? Hanya dimunculkan saat mau kampanye atau khutbah Jumat, lalu dilipat rapi dan disimpan kembali begitu pemilu usai.
Kita pun mulai terbiasa. Tertawa saat melihat pejabat menyuruh rakyat hidup sederhana sambil berdiri di samping mobil mewah. Menelan mentah-mentah slogan “dari rakyat, oleh rakyat, untuk keluarga sendiri.” Membaca berita korupsi seperti membaca ramalan cuaca—selalu ada, tak mengejutkan lagi.
Dan jarum itu, ya, tetap bergeming menunjuk ke bawah. Barangkali karena di sanalah sekarang semua arah berkumpul: nafsu, kuasa, uang, pencitraan, bahkan agama yang dimodifikasi jadi alat politik. Kompas ini rusak bukan karena pabrik pembuatnya salah. Tapi karena penggunaannya yang disengaja dibelokkan.
Maka, jika kelak ada seseorang yang mencoba membetulkan jarum kompas, jangan kaget bila ia dicibir: “Lurus amat, kayak penggaris.” Karena di negeri ini, meluruskan arah dianggap gangguan, bukan pembenahan.
Tapi siapa tahu, suatu hari nanti, ada angin utara yang kuat, meniup jarum itu untuk sekadar menengadah. Bukan karena kita layak, tapi karena alam sudah jenuh melihat manusia kehilangan arah.






