Ada sore yang tak butuh kemewahan untuk terasa cukup. Hanya sepiring nasi hangat, lauk yang seadanya, dan hati yang tenang. Tidak ada sorotan cahaya restoran mahal atau percakapan berisik yang dipaksakan. Hanya aku, sunyi, dan rasa syukur yang tumbuh pelan-pelan.
Di latar belakang, musik jazz mengalun pelan—saxophone berbicara lirih, piano menjawab lembut. Tak ada lirik, tak ada keramaian, hanya nada-nada yang mengerti bahwa ketenangan bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan. Musik bukan lagi hiburan, tapi pelukan.
Lalu kutemukan diriku duduk sendiri, menulis tanpa batas. Tanpa editor, tanpa tekanan, tanpa harapan untuk dikagumi. Kata-kata mengalir seperti air sungai yang mengenal betul jalannya menuju lautan. Di sini, aku merdeka. Merdeka sebagai manusia yang mengisi waktunya dengan sesuatu yang ia cintai. Apa lagi yang bisa membuat hidup terasa lebih hidup?
Dan saat itu, ayat itu datang bergema di dalam dada:
“Fabi ayyi ala’i rabbikuma tukadzdziban”
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Kalimat yang berulang-ulang dalam Surah Ar-Rahman bukan sekadar pertanyaan. Ia adalah ketukan halus ke pintu hati—menyadarkan kita bahwa segala hal, bahkan yang terlihat kecil dan biasa, adalah anugerah yang tak pantas disangkal.
Kadang kita menunggu datangnya rezeki besar, lupa bahwa detik ini pun adalah bagian dari limpahan nikmat. Nafas yang teratur, makanan yang sederhana, nada yang menenangkan, dan kebebasan untuk mencipta—bukankah itu juga rahmat?
Aku belajar bahwa hidup tak perlu mewah untuk bermakna. Cukup rasa syukur yang dalam, dan kesadaran bahwa Tuhan tak pernah berhenti memberi. Jika begitu banyak nikmat dalam satu sore yang tenang, maka—
Nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang hendak kau dustakan?





