Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Nikmat Apalagi yang Kuingkari

munira by munira
April 30, 2025
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Ada sore yang tak butuh kemewahan untuk terasa cukup. Hanya sepiring nasi hangat, lauk yang seadanya, dan hati yang tenang. Tidak ada sorotan cahaya restoran mahal atau percakapan berisik yang dipaksakan. Hanya aku, sunyi, dan rasa syukur yang tumbuh pelan-pelan.

Di latar belakang, musik jazz mengalun pelan—saxophone berbicara lirih, piano menjawab lembut. Tak ada lirik, tak ada keramaian, hanya nada-nada yang mengerti bahwa ketenangan bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan. Musik bukan lagi hiburan, tapi pelukan.

Lalu kutemukan diriku duduk sendiri, menulis tanpa batas. Tanpa editor, tanpa tekanan, tanpa harapan untuk dikagumi. Kata-kata mengalir seperti air sungai yang mengenal betul jalannya menuju lautan. Di sini, aku merdeka. Merdeka sebagai manusia yang mengisi waktunya dengan sesuatu yang ia cintai. Apa lagi yang bisa membuat hidup terasa lebih hidup?

Dan saat itu, ayat itu datang bergema di dalam dada:

“Fabi ayyi ala’i rabbikuma tukadzdziban”
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Kalimat yang berulang-ulang dalam Surah Ar-Rahman bukan sekadar pertanyaan. Ia adalah ketukan halus ke pintu hati—menyadarkan kita bahwa segala hal, bahkan yang terlihat kecil dan biasa, adalah anugerah yang tak pantas disangkal.

Kadang kita menunggu datangnya rezeki besar, lupa bahwa detik ini pun adalah bagian dari limpahan nikmat. Nafas yang teratur, makanan yang sederhana, nada yang menenangkan, dan kebebasan untuk mencipta—bukankah itu juga rahmat?

Aku belajar bahwa hidup tak perlu mewah untuk bermakna. Cukup rasa syukur yang dalam, dan kesadaran bahwa Tuhan tak pernah berhenti memberi. Jika begitu banyak nikmat dalam satu sore yang tenang, maka—

Nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang hendak kau dustakan?

 

ADVERTISEMENT
Previous Post

Tuhan Pun Akan Kulawan – Bila Kekuasaan Bertingkah Seperti Dewa

Next Post

Menjadi Pohon: Sebuah Perjalanan Menembus Diri

munira

munira

Related Posts

Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri

Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri

by munira
September 15, 2026
0

*Kita berperang sengit di dalam diri, lalu apa gunanya perang dengan orang lain?* — Jalaluddin Rumi Ada perang yang tidak...

BERJALANLAH DI BUMI, BUKAN SEKADAR KE BAITULLAH – Ketika Al-Qur’an Memerintah “Fasīrū” dan “Fantashirū”, tetapi Tidak Berkata “Berhajilah!”

BERJALANLAH DI BUMI, BUKAN SEKADAR KE BAITULLAH – Ketika Al-Qur’an Memerintah “Fasīrū” dan “Fantashirū”, tetapi Tidak Berkata “Berhajilah!”

by munira
September 14, 2026
0

Oleh: Ali Syarief Ada sesuatu yang menarik dalam cara Al-Qur’an menggunakan bahasa ketika berbicara tentang perjalanan manusia. Al-Qur’an berkali-kali menggunakan...

Kalau Doa Sudah Cukup, Mengapa Nabi Harus Berperang?

by munira
September 13, 2026
0

Oleh Ali Syarief Ada satu pertanyaan sederhana yang jarang kita ajukan dengan serius: kalau doa memang bisa menjadi jalan utama...

DI ANTARA JUBAH, HASRAT, DAN PERNIKAHAN – Ketika Kesucian Berhadapan dengan Tubuh Manusia

DI ANTARA JUBAH, HASRAT, DAN PERNIKAHAN – Ketika Kesucian Berhadapan dengan Tubuh Manusia

by munira
September 12, 2026
0

By Ali Syarief Ada paradoks tua dalam kehidupan manusia: Semakin tinggi seseorang diminta meninggalkan dunia, semakin besar pula pertanyaan tentang...

Next Post
Menjadi Pohon: Sebuah Perjalanan Menembus Diri

Menjadi Pohon: Sebuah Perjalanan Menembus Diri

Jeruji yang Kita Bangun Sendiri

Jeruji yang Kita Bangun Sendiri

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri
  • BERJALANLAH DI BUMI, BUKAN SEKADAR KE BAITULLAH – Ketika Al-Qur’an Memerintah “Fasīrū” dan “Fantashirū”, tetapi Tidak Berkata “Berhajilah!”
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira