Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Education

POLITIK IDENTITAS DAN POLITIK PEMALSUAN IDENTITAS

munira by munira
February 20, 2024
in Education, Opinion, Politic
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh M Yamin Nasution-Pemerhati Hukum

Montesquieu dalam buku Semangat Hukum (De’l Esprit Des Loi) mengatakan: Apabila suatu kelompok disakiti, namun suatu hari mereka berkuasa, dan membalas apa yang dulu di alaminya dengan latar belakang agama, perbuatan pembalasan itu adalah kejahatan, walaupun dibelakangnya ada simbol Agama.

Bertahun-tahun kata ‘politik identitas’ seolah-olah menjadi satu kalimat yang kuat untuk menghilangkan semangat penegakan keadilan yang harus di junjung tinggi oleh ummat islam.

Sebagai golongan terbesar, islam memang di ajarkan oleh Al-qur’an untuk terus berbicara tentang ketidakadilan, islam bahkan di perintah untuk menegakkan keadilan.

Selama pemerintahan di pimpin oleh Jokowi, dua kata ini, ‘politik identitas’ seolah-olah hanya tertuju pada golongan Islam. Bahkan Jokowi mengatakan dengan tegas untuk “Memisahkan Agama dengan Politik”.

Pernyataan ini juga di aminkan oleh mereka-mereka yang tidak memahami antara kejahatan, agama, dan kejahatan dibalik agama.

Politik Identitas

Indonesia secara geographik adalah identitas, bukan politik. Pernyataan ini disebut oleh peneliti sosiologi dan hukum adat Belanda, sekaligus misionaris kristen yaitu Ter Haar dalam buku Adat Recht, penelitian ini juga di tulis ulang kedalam Bahasa Inggris oleh dua Associates Prof asal Amerika Serikat, Arthur Schiller dan Adamson Hoebel (Adat Law In Indonesia, 1967).

Indonesia secara geographik adalah Identitas, artinya setiap kehidupan masyarakat Indonesia memiliki identitas yang kuat, baik dari sisi penamaan, marga, rambut, aksen, dan seterusnya, termasuk Agama.

Identitas menyatu dalam kehidupan fisik dan batin (jiwa), mustahil seseorang dapat memisahkan antara identitas fisik dan identitas batiniah, bahkan identitas batiniah akan menjadi landasan dalam aktivitas sehari-hari. Demikian pula dengan latar belakang agama yang di terima seseorang sejak kecil.

Dalam bahasa Prancis identitas disebut “identité, ydemtité, ydemptité”  kesamaan kualitas. Dalam bahasa Indonesia berasal dari dasar kata “Ide” dan “Entitas”

Pertanyaan utama adalah, dapatkah Identitas ini berubah? ya dapat, namun seseorang yang dibesarkan dengan identitas, akan sangat sulit melepas identitas, khususnya identitas batiniah (jiwa).

Setiap ide, atau ideologi tidak dapat bersifat pasti selama seseorang masih memiliki nyawa, dia dapat berubah, bahkan potensial berubah setiap detik, potensi perubahan setiap detik berkaitan dengan ide ide yang ringan (Baca: Comte Antonio Louis Destut De Tracy, 1825  Élémen D’Idéologie)

Hidup dalam kehidupan terbagi atas tiga, yaitu; masa lalu, masa kini dan yang akan datang, secara ruang dan waktu ketiga kehidupan ini terpisah, namun secara psikologis (kejiwaan), apa yang dilakukan saat ini, dan yang akan datang, secara psikologis (kejiwaan) adalah satu kesatuan. Inilah bagian sejarah terdalam kehidupan manusia dan dalam konsep kehidupan bernegara.

Lalu bagaimana bila suatu kelompok dengan identitas Agama melakukan kejahatan? Montesquieu dalam buku Semangat Hukum (De’l Esprit Des Loi) mengatakan: Apabila suatu kelompok disakiti, namun suatu hari mereka berkuasa, dan membalas apa yang dulu di alaminya dengan latar belakang agama, perbuatan pembalasan itu adalah kejahatan, walaupun dibelakangnya ada simbol Agama.

Politik Pemalsuan Identitas

Politik Pemalsuan Identitas adalah suatu politik yang dilakukan dengan berpura-pura agamis, menggunakan latar belakang agama, budaya, adat, yang palsu.

Pura-pura merakyat, pura-pura agamis, semua aktivitas politik dilandaskan kebohongan demi mendapatkan suara dan perhatian dari masyarakat.

Ir. Soekarno dalam Tujuh Indoktrinasi mengatakan; gotong royong adalah suatu semangat kebersamaan, adanya kesamaan antara ucapan dan action, apabila antara ucapan dan action berbeda, ini adalah lip service.

Kesimpulan

Politik tertinggi dalam politik identitas adalah politik yang disandarkan pada nilai-nilai agama, nilai-nilai budaya, setiap orang dengan latar belakang budaya yang kuat, lalu memilih suatu agama, bila budaya nilai-nilai budaya bertentangan dengan agama, secara kesadaran pribadi harus meninggalkannya., sehingga tidak menjadi penyebab pertikaian.

Dalam  kehidupan masyarakat yang majemuk, hal ini menjadi salah satu fungsi dasar negara dalam konsep penganut klasik liberal, secara umum dikenal sebagai: Berbeda beda tetap satu jua (Unity in Deversity).

Negara penganut Klasik liberal harus menghidupkan nilai-nilai agama, budaya, dan adat istiadat, setiap golongan harus menjaga, nilai-nilai yang ada, dan dalam kehidupan demokrtisnya mereka dibatasi atas hal-hal ini (tertuang pada Pasal 28 J ayat (2) UUD-NRI 1945).

Konsep ini pembeda antara masyarakat Indonesia dengan masyarakat Eropa yang melandaskan pada Persatuan dalam Perbedaan (Deversity within Unity), masyarakat Eropa memiliki latar belakang agama, budaya dan adat istiadat, namun mereka hidup untuk kepentingan hidup dan dilindungi oleh pemerintah semata, tidak peduli tetangga, agama, budaya dan agama dipisahkan dengan negara, walaupun secara piskologis sangat berat.

Melalui Politik identitas yang memahami nilai tertinggi pada sila pertama, maka seorang pemimpin akan melahirkan sila ke lima, pemimpin tidak akan berbohong, ingkar janji-janjinya.

Bila seorang Presiden memahami hakekat teologis, maka dia malu berdusta, dia tidak akan menggunakan kekuasan untuk kepentingan pribadi dan keluarga, tidak akan melanggar hukum tertinggi, tidak akan menjadi penyebab yang menimbulkan kekisruhan besar dalam bernegara.

 

 

 

 

 

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Mulai Tekuak Memaknai “Dijogetin Aja” – Rekayasa Rekaputilasi Real Count

Next Post

“Kecurangan dalam Pemilu/Pilpres 2024: Ironi Para Politisi yang Kelak Menjadi Pemimpin Indonesia”

munira

munira

Related Posts

Jangan Petik Bunga Itu: Ia Adalah Kelamin

Iman Tanpa Akal: Jalan Pintas Menuju Kesesatan Riwayat

by munira
January 12, 2026
0

Ada satu kebiasaan berbahaya yang kian tumbuh di ruang-ruang dakwah modern: menerima setiap riwayat atas nama “katanya Nabi” tanpa bertanya,...

Iman, Otoritas, dan Kebenaran

by munira
January 4, 2026
0

Beragama pada hakikatnya menuntut believe—iman. Tetapi apa sebenarnya iman itu? Dalam pengertian paling mendasar, iman adalah tindakan meyakini sesuatu yang...

Bunga di Tembok Tua: Sebuah Renungan tentang Kehidupan

Bisikan untuk Empat Jiwa yang Kuat

by munira
December 17, 2025
0

Ada masa ketika kata-kata kehilangan suaranya. Ia tak lagi ingin didengar manusia, hanya ingin diperdengarkan kepada Tuhan Yang Maha Esa....

Peta Kebahagiaan: Dari Timur ke Barat, Dari Jiwa ke Jiwa

by munira
December 11, 2025
0

Setiap manusia di manapun ia dilahirkan, dari bangsa mana pun ia berasal, selalu membawa satu kerinduan yang sama: kerinduan untuk...

Next Post
“Kecurangan dalam Pemilu/Pilpres 2024: Ironi Para Politisi yang Kelak Menjadi Pemimpin Indonesia”

"Kecurangan dalam Pemilu/Pilpres 2024: Ironi Para Politisi yang Kelak Menjadi Pemimpin Indonesia"

Pepeling Kolot Sunda

Please login to join discussion

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Iman Tanpa Akal: Jalan Pintas Menuju Kesesatan Riwayat
  • Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira