Ada sesuatu yang kadang membuat saya malu sebagai seorang Muslim.
Seorang teman dari Jerman, Mr. dan Mrs. Wagner, hampir selalu mengingat ulang tahun saya. Mereka mengirimkan ucapan yang sederhana, hangat, dan tulus. Mereka tidak pernah bertanya apakah ucapan itu *syar’i*. Tidak pernah sibuk mencari dalil apakah mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya termasuk ibadah atau bukan. Mereka hanya ingat bahwa ada seorang teman yang sedang bertambah usia—dan mereka memilih untuk menunjukkan perhatian.
Sementara saya?
Sering kali saya justru lupa mengucapkan selamat kepada mereka.
Di situlah tamparannya.
Mengapa orang yang tidak berbicara atas nama Islam justru sering memperlihatkan sesuatu yang sangat Islami: mengingat, menghargai, menyayangi, dan berbuat baik kepada sesama?
Kita kadang terlalu sibuk mencari legitimasi syariah untuk sebuah kebaikan, sampai lupa melakukan kebaikan itu sendiri.
Kita bertanya: Apa hukumnya? Boleh atau haram? Ada dalilnya atau tidak? Sesuai sunnah atau tidak?
Pertanyaan-pertanyaan itu tentu penting. Syariah bukan sesuatu yang boleh diremehkan. Tetapi ada persoalan yang lebih mendasar: jangan sampai syariah kita jadikan pagar yang membuat kita kehilangan akhlak.
Sebab Islam tidak datang hanya untuk mengatur bagaimana manusia beribadah kepada Tuhan. Islam juga mengajarkan bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya.
Menghormati orang tua. Menepati janji. Menyambut tamu. Menolong orang yang kesusahan. Mengingat sahabat. Mengucapkan kata-kata yang baik. Menjaga perasaan orang lain. Tidak menyakiti. Tidak merendahkan.
Bukankah semua itu akhlak?
Dan bukankah akhlak adalah wajah pertama yang dilihat manusia dari agama kita?
Yang menyedihkan adalah ketika sebagian orang begitu bersemangat mengukur keislaman orang lain dari pakaian, ucapan, simbol, dan ritual, tetapi lupa mengukur dirinya sendiri dengan pertanyaan sederhana:
“Apakah kehadiran saya membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik?”
Seorang Muslim mungkin hafal banyak ayat, tetapi lupa mengucapkan terima kasih.
Mungkin rajin berbicara tentang sunnah, tetapi tidak pernah mengingat ulang tahun sahabatnya.
Mungkin sangat keras memperdebatkan halal dan haram, tetapi mudah menyakiti hati orang.
Mungkin merasa paling memahami Islam, tetapi tetangganya justru tidak merasakan keramahan darinya.
Di mana letak masalahnya?
Mungkin kita terlalu sibuk melegitimasi kebaikan, sampai lupa **menjadi orang baik**.
Padahal orang tidak selalu membutuhkan ceramah agama dari kita. Kadang mereka hanya membutuhkan seorang teman yang berkata:
**“Saya ingat Anda.”**
Itulah yang dilakukan Mr. dan Mrs. Wagner kepada saya.
Dan saya ingin belajar dari mereka.
Bukan untuk mengatakan bahwa mereka lebih Islami daripada orang Islam. Bukan pula untuk menghapus batas-batas keyakinan dan syariah. Tetapi untuk mengingatkan diri sendiri bahwa nilai-nilai kemanusiaan tidak selalu datang melalui pintu yang kita beri label agama.
Kebaikan adalah kebaikan.
Kejujuran tetap kejujuran.
Kasih sayang tetap kasih sayang.
Perhatian tetap perhatian.
Jangan sampai kita menjadi orang yang sangat sibuk membuktikan bahwa dirinya Muslim, tetapi lupa memperlihatkan kepada dunia bagaimana indahnya menjadi seorang Muslim.
Sebab Islam tidak semestinya hanya terdengar dari suara kita ketika berceramah.
**Islam seharusnya terasa dari cara kita memperlakukan manusia.**
Dan kalau seseorang yang berbeda agama, berbeda budaya, bahkan tinggal ribuan kilometer jauhnya mampu mengingat ulang tahun seorang teman dengan penuh perhatian, mungkin pertanyaan yang paling pantas kita ajukan bukan:
“Apakah perbuatannya sesuai syariah?”
Melainkan:
“Mengapa saya sendiri belum cukup baik untuk melakukan hal yang sama?”
Liebe Frau und lieber Herr Wagner,
ich möchte mich von Herzen für Ihre lieben Geburtstagswünsche bedanken. Ich weiß Ihre Aufmerksamkeit und Ihre herzlichen Grüße sehr zu schätzen – umso mehr, weil Sie immer so zuverlässig an meinen Geburtstag denken, während ich selbst leider viel zu oft vergesse, Ihnen zu gratulieren. Dafür möchte ich mich ganz herzlich bei Ihnen entschuldigen.
Ihre lieben Worte bedeuten mir wirklich sehr viel und ich freue mich jedes Mal darüber.
Ich wünsche Ihnen beiden von Herzen Gesundheit, Glück und viele schöne gemeinsame Momente. Mögen Sie beide immer gesund und wohlauf bleiben.
Ganz herzliche Grüße aus Indonesien



