“Setengah dari manusia adalah aib, setengahnya lagi adalah gaib.”
— *Rumi*
Ada sesuatu yang dalam dari kalimat pendek itu. Ia seperti cermin yang tidak hanya memantulkan wajah, tetapi juga memperlihatkan bagian diri yang selama ini kita sembunyikan.
Manusia memang aneh. Kita begitu mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi begitu sulit mengenali kekurangan diri sendiri. Aib orang lain kita bicarakan dengan terang-terangan, sementara aib sendiri kita simpan rapat-rapat di balik senyum, jabatan, pakaian, gelar, bahkan kesalehan.
Padahal, setiap manusia membawa ruang gelap dalam dirinya.
Ada sifat yang tidak ingin diketahui orang lain. Ada kesalahan yang tidak pernah diceritakan. Ada luka yang disembunyikan di balik tawa. Ada iri yang ditutup dengan ucapan selamat. Ada kesombongan yang menyamar sebagai kepercayaan diri. Ada ketakutan yang disembunyikan di balik keberanian.
Itulah mungkin bagian “aib” dari manusia.
Namun ada bagian yang lebih misterius: **gaib**.
Kita tidak pernah benar-benar tahu siapa seseorang.
Orang yang hari ini tampak kuat mungkin sedang berjuang keras agar tidak runtuh. Orang yang banyak tertawa mungkin sedang menyembunyikan kesedihan. Orang yang terlihat sederhana mungkin menyimpan kebijaksanaan yang tidak pernah diajarkan di sekolah. Bahkan seseorang yang kita anggap buruk, mungkin memiliki sisi kebaikan yang belum pernah kita lihat.
Karena manusia tidak pernah selesai dibaca.
Kita sering menghakimi seseorang hanya berdasarkan satu halaman, seolah-olah kita sudah membaca seluruh bukunya.
Padahal hidup seseorang terdiri dari ribuan halaman: masa kecil, luka, kehilangan, cinta, kegagalan, penyesalan, harapan, dan doa-doa yang hanya diketahui oleh dirinya dan Tuhan.
Maka jangan terlalu cepat menyimpulkan seseorang.
Kita hanya mengenal apa yang ia tunjukkan. Selebihnya adalah wilayah gaib.
Dan mungkin di situlah letak pelajaran terbesarnya: **jangan merasa paling tahu tentang manusia lain.**
Bahkan tentang diri sendiri pun kita sering keliru.
Hari ini kita merasa mengenal diri kita. Besok sebuah peristiwa dapat memperlihatkan sisi lain yang selama ini tersembunyi. Dalam keadaan terdesak, kita bisa menemukan keberanian yang tidak pernah kita sangka ada. Dalam kehilangan, kita menemukan ketabahan. Dalam kesendirian, kita menemukan siapa sebenarnya diri kita.
Hidup adalah perjalanan menyingkap lapisan-lapisan itu.
Semakin tua seseorang, semestinya semakin sedikit ia menghakimi. Sebab semakin panjang perjalanan hidup, semakin kita sadar bahwa manusia memang penuh paradoks: bisa baik sekaligus buruk, kuat sekaligus rapuh, bijaksana sekaligus bodoh.
Tidak ada manusia yang sepenuhnya terang.
Dan tidak ada pula yang sepenuhnya gelap.
Mungkin karena itu, kebijaksanaan bukanlah kemampuan untuk menemukan kesalahan orang lain, melainkan kemampuan untuk memahami bahwa setiap orang sedang berjuang dengan sesuatu yang tidak kita ketahui.
Kita melihat wajahnya, tetapi tidak melihat bebannya.
Kita mendengar kata-katanya, tetapi tidak mendengar seluruh pergulatan di dalam hatinya.
Kita melihat kehidupannya, tetapi tidak pernah benar-benar mengetahui doanya.
Pada akhirnya, mungkin tugas manusia bukan menjadi hakim bagi kehidupan orang lain.
Tugas kita adalah belajar mengenali aib dalam diri sendiri, menghormati wilayah gaib dalam diri orang lain, lalu berjalan dengan sedikit lebih rendah hati.
Sebab di hadapan Tuhan, bukankah kita semua sama-sama manusia yang membawa rahasia?
**Setengah dari kita adalah aib yang berusaha kita sembunyikan.
Setengah lainnya adalah gaib yang bahkan belum kita pahami.**
Maka pagi ini, sebelum menilai siapa pun, mungkin lebih baik kita bertanya kepada diri sendiri:
“Apa yang belum kuketahui tentang diriku?”
Sebab bisa jadi, perjalanan paling jauh dalam hidup bukanlah perjalanan menuju tempat yang jauh.
Melainkan perjalanan pulang—
**menuju diri sendiri.**




