Ada satu perdebatan yang hampir selalu muncul ketika agama bertemu dengan sains: apakah kitab suci harus dibaca sebagai buku ilmiah?
Pertanyaan itu kembali menarik perhatian setelah muncul tulisan yang menuduh Al-Qur’an memberikan gambaran yang “membingungkan” mengenai penciptaan manusia. Argumennya sederhana: Al-Qur’an menyebut manusia diciptakan dari *‘alaq* atau sesuatu yang diterjemahkan sebagai “segumpal darah”, dari air, dari tanah liat, dari debu, sementara pada ayat lain digunakan ungkapan *kun fa-yakūn*—“Jadilah, maka jadilah ia”. Penulis kemudian memperlakukan semua pernyataan itu sebagai lima penjelasan biologis yang harus konsisten satu sama lain.
Di sinilah persoalannya menjadi menarik.
Bukan semata-mata soal apakah Al-Qur’an benar atau salah. Persoalan yang lebih mendasar adalah: **apakah cara membaca tersebut memang sahih secara ilmiah?**
Antara ayat dan laboratorium
Ilmu pengetahuan bekerja dengan metode tertentu. Ia mengamati objek, membuat hipotesis, melakukan pengukuran, menguji hipotesis, dan memungkinkan hasilnya diverifikasi atau dibantah.
Embriologi, misalnya, dapat menjelaskan secara empiris bagaimana kehidupan manusia berkembang dari pembuahan, pembelahan sel, pembentukan blastokista, implantasi, diferensiasi jaringan, hingga perkembangan organ.
Karena itu, jika sebuah teks menyatakan bahwa embrio manusia adalah “gumpalan darah”, pernyataan tersebut memang dapat dibandingkan dengan pengetahuan embriologi modern.
Dan di sinilah muncul persoalan terhadap penerjemahan *‘alaq* secara literal sebagai “gumpalan darah”. Embrio manusia bukanlah gumpalan darah dalam pengertian biologis modern.
Namun, dari fakta tersebut belum dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an “bertentangan dengan sains”.
Mengapa?
Karena *‘alaq* merupakan istilah bahasa Arab yang mempunyai rentang makna. Ia tidak harus diperlakukan sebagai istilah teknis embriologi modern.
Dengan kata lain, **masalahnya bukan hanya pada teks, tetapi juga pada cara kita menerjemahkan dan mengklasifikasikan teks tersebut.**
Manusia dari air: apakah ini kontradiksi?
Al-Qur’an juga menyebut manusia diciptakan dari air.
Secara ilmiah, tubuh manusia memang sebagian besar terdiri atas air. Air merupakan komponen fundamental dalam sel dan berbagai proses biologis.
Tetapi seorang ilmuwan tidak akan mengatakan bahwa manusia “dibuat dari air” dalam arti bahwa air adalah satu-satunya bahan pembentuk manusia.
Tubuh manusia terdiri atas berbagai unsur dan molekul: air, protein, lipid, mineral, asam nukleat, karbohidrat dan berbagai senyawa lainnya.
Maka, jika ayat “manusia dari air” dibaca sebagai **persamaan kimia**, tentu saja ia terlalu sederhana.
Tetapi jika ia dibaca sebagai pernyataan mengenai unsur fundamental kehidupan, persoalannya menjadi berbeda.
Di sinilah kita harus berhati-hati.
**Bahasa agama tidak selalu bekerja seperti bahasa buku teks biologi.**
Tanah, debu dan manusia
Begitu pula dengan penyebutan tanah atau debu.
Tulisan yang kita analisis memperlakukan “tanah”, “air”, “darah”, dan “ketiadaan” sebagai bahan-bahan yang saling berkompetisi untuk menjelaskan bagaimana seorang manusia terbentuk.
Padahal secara tekstual, belum tentu demikian.
“Tanah” dan “debu” dapat berbicara tentang asal material manusia dalam pengertian yang luas. Secara biologis pun manusia tersusun dari unsur-unsur kimia yang pada akhirnya berasal dari lingkungan bumi.
Karbon, oksigen, hidrogen, nitrogen, kalsium, fosfor, besi dan unsur lainnya tidak jatuh dari langit sebagai “manusia”. Unsur-unsur itu berada dalam lingkungan alam dan kemudian masuk ke dalam rantai kehidupan.
Dengan demikian, mengatakan bahwa manusia memiliki hubungan material dengan tanah bukanlah sebuah klaim yang secara otomatis bertentangan dengan sains.
Yang tidak ilmiah adalah menjadikan kalimat tersebut sebagai **resep laboratorium penciptaan manusia**.
Lalu bagaimana dengan “kun fa-yakūn”?
Ini justru bagian yang paling menarik.
Penulis yang dikritik di sini menghubungkan *kun fa-yakūn* dengan gagasan bahwa manusia diciptakan “dari ketiadaan”.
Tetapi secara metodologis, kesimpulan tersebut perlu diperiksa.
“Jadilah, maka jadilah ia” merupakan pernyataan teologis mengenai kekuasaan Allah. Ia bukan laporan eksperimen laboratorium mengenai bahan baku tubuh manusia.
Kalimat tersebut tidak mengatakan:
> “Secara biologis manusia terbentuk dari materi nol.”
Maka mengubah *kun fa-yakūn* menjadi teori ilmiah tentang **creation ex nihilo** merupakan langkah interpretatif tambahan.
Ini penting.
Sains dapat meneliti bagaimana embrio berkembang. Sains dapat meneliti DNA, sel, jaringan dan organ. Sains dapat menjelaskan mekanisme reproduksi.
Tetapi pertanyaan:
**“Mengapa ada sesuatu daripada tidak ada sama sekali?”**
adalah pertanyaan metafisika dan filsafat kosmologi, bukan pertanyaan yang dapat diselesaikan hanya dengan mikroskop.
Kesalahan terbesar: memaksa kitab suci menjadi textbook
Di sinilah debat antara agama dan sains sering salah alamat.
Sebagian pembela agama berusaha mencari setiap penemuan ilmiah di dalam ayat. Sebaliknya, sebagian pengkritik agama mencari setiap ayat yang tidak cocok dengan terminologi ilmiah modern, lalu menyimpulkan bahwa kitab tersebut gagal sebagai buku sains.
Kedua pendekatan itu memiliki masalah yang sama:
**mereka mengasumsikan bahwa kitab suci memang ditulis sebagai buku teks ilmiah.**
Padahal Al-Qur’an bukan buku anatomi.
Ia berbicara mengenai Tuhan, manusia, moralitas, kehidupan, kematian, sejarah, tanggung jawab, dan makna keberadaan.
Karena itu, menguji Al-Qur’an dengan standar “apakah setiap kalimatnya dapat dijadikan proposisi embriologi modern?” adalah kategori yang perlu dipertanyakan sejak awal.
Namun sebaliknya, umat beragama juga tidak seharusnya menggunakan ayat-ayat tersebut secara berlebihan untuk mengklaim bahwa Al-Qur’an telah memberikan teori embriologi modern secara lengkap.
Itu juga bukan metode ilmiah.
Di mana kritik ilmiah tetap sah?
Bukan berarti semua kritik terhadap ayat-ayat tersebut harus ditolak.
Justru sebaliknya.
Jika seseorang mengatakan:
> “*‘Alaq* secara literal berarti gumpalan darah dan Al-Qur’an sedang memberikan terminologi ilmiah tentang embrio,”
maka pernyataan itu **boleh diuji secara ilmiah**.
Dan jika dibandingkan dengan embriologi modern, “gumpalan darah” bukanlah deskripsi ilmiah yang akurat mengenai embrio manusia.
Tetapi apabila seseorang mengatakan:
> “Ayat tersebut menggunakan bahasa keagamaan yang menggambarkan sesuatu yang melekat atau menggantung pada suatu tahap perkembangan,”
maka persoalannya berubah menjadi persoalan linguistik dan hermeneutika.
Itu tidak dapat diputuskan hanya dengan mikroskop.
## Sains tidak membuktikan Tuhan—dan juga tidak membantah Tuhan
Ini mungkin kesimpulan paling penting.
Sains sangat kuat ketika berhadapan dengan **hal-hal yang dapat diamati dan diuji**.
Tetapi Tuhan, dalam pengertian teologis, bukan objek biologis yang dapat diletakkan di bawah mikroskop.
Karena itu, mengatakan:
> “Sains membuktikan Al-Qur’an benar”
sama problematisnya dengan mengatakan:
> “Sains membuktikan Al-Qur’an salah.”
Keduanya melampaui kemampuan metode ilmiah jika yang dipersoalkan adalah kebenaran metafisik sebuah agama.
Yang dapat dilakukan sains adalah menguji **klaim empiris** yang dibuat manusia atas nama agama.
Dan ini justru merupakan wilayah yang sehat untuk didiskusikan.
## Pertanyaan yang sebenarnya
Maka persoalan tentang penciptaan manusia seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan:
**“Apakah Al-Qur’an bertentangan dengan sains?”**
Pertanyaan yang lebih tajam adalah:
**“Ketika Al-Qur’an berbicara tentang penciptaan manusia, apakah ia sedang memberikan uraian ilmiah-biologis, atau sedang berbicara dalam bahasa teologis mengenai asal-usul dan kedudukan manusia?”**
Jika jawabannya adalah yang kedua, maka “tanah”, “air”, “debu”, dan *‘alaq* tidak harus diperlakukan sebagai bahan-bahan dalam sebuah laboratorium.
Namun jika seorang penafsir sendiri mengklaim bahwa semuanya merupakan **uraian ilmiah literal tentang embriologi**, maka klaim itu memang harus siap diuji oleh ilmu pengetahuan—dan tidak boleh dilindungi hanya karena ia bersumber dari teks agama.
Di situlah sikap ilmiah seharusnya berdiri:
**tidak membela agama dengan mengorbankan sains, tetapi juga tidak menyerang agama dengan memakai standar ilmiah pada sesuatu yang sejak awal bukan klaim ilmiah.**
Sebab antara iman dan ilmu pengetahuan terdapat sebuah wilayah yang sering dilupakan manusia: **wilayah pertanyaan.**
Dan justru di wilayah itulah pikiran yang sehat bekerja.
Bukan dengan buru-buru berkata, *“Saya sudah menemukan kesalahannya.”*
Melainkan dengan bertanya:
**“Apa sebenarnya yang dikatakan teks itu—dan apa yang sesungguhnya dapat dibuktikan oleh sains?”**





