Seandainya aku Tuhan, aku tak akan mewahyukan kitab bertuliskan hukum atau nabi yang diangkat menjadi juru bicara. Tidak pula aku akan membangun tembok dogma yang membatasi imajinasi manusia tentang siapa Aku. Karena Aku tak perlu perantara. Aku bisa hadir di setiap denyut nadi, di setiap tarikan napas, di antara sunyi yang tak pernah kau sadari.
Aku akan berbicara langsung kepada hati manusia. Dalam detak yang lirih namun pasti, Aku akan berbisik melalui cinta, melalui rasa yang kau sebut intuisi. Setiap luka akan menjadi ayat, setiap tawa adalah wahyu, dan setiap perjalananmu adalah kitab suci yang terukir oleh langkah-langkahmu sendiri.
Seandainya aku Tuhan, Aku tak akan memerintahkanmu untuk menyembah. Karena Aku tak haus akan pujian, tak butuh tahta, dan tak mendambakan gelar yang kau sematkan dengan lidah penuh ketakutan. Aku hanya ingin kau merasakan keberadaan-Ku sebagai kekuatan yang menggerakkan hidupmu menuju kebaikan.
Aku tidak akan memberimu surga sebagai hadiah atau neraka sebagai ancaman. Sebaliknya, Aku akan menanamkan pengertian dalam dirimu bahwa surga adalah kasih yang kau ciptakan, dan neraka adalah kebencian yang kau biarkan membara.
Seandainya aku Tuhan, Aku akan menjadi cahaya kecil di dalam dirimu—bukan untuk memimpinmu, tetapi untuk menuntunmu menyala. Aku akan hadir dalam kesederhanaan: dalam pelukan seorang ibu, dalam tawa anak-anak, dalam hembusan angin yang memeluk sunyi.
Dan jika suatu hari kau mencari-Ku dalam bait-bait doa atau zikir panjang yang berulang, ingatlah: Aku tidak berada di sana. Aku tidak jauh, tidak pula tersembunyi. Aku ada di sini, di hatimu, di tempat cinta pertama kali diciptakan. Aku adalah suara kecil itu, yang selama ini kau abaikan.
Seandainya aku Tuhan, Aku hanya ingin kau menjadi manusia yang merdeka—bukan karena takut kepada-Ku, tetapi karena cinta pada hidup yang Aku berikan. Karena sesungguhnya, Aku menciptakanmu bukan untuk sujud, tetapi untuk mencinta.









