Setiap orang hampir pasti sepakat: syetan adalah makhluk jahat. Ia menggoda, membisikkan keburukan, menyesatkan manusia dari jalan Tuhan.
Tetapi ada pertanyaan yang jarang kita ajukan: **kalau syetan begitu jahat, siapa yang menciptakannya?**
Bukankah Tuhan?
Di sinilah paradoks itu bermula.
Kita sering membayangkan Tuhan dan syetan sebagai dua kekuatan yang berhadap-hadapan: Tuhan sebagai sumber kebaikan, syetan sebagai sumber kejahatan. Seolah-olah syetan adalah kekuatan liar yang berada di luar kekuasaan Tuhan.
Padahal dalam keyakinan tauhid, tidak ada sesuatu pun yang berada di luar pengetahuan dan kekuasaan-Nya.
Maka persoalannya bukan sekadar: *mengapa Tuhan membiarkan syetan ada?*
Pertanyaan yang lebih dalam adalah: **mengapa Tuhan menciptakan makhluk yang tugasnya menggoda manusia?**
Mungkin karena kehidupan manusia memang bukan ruang tanpa godaan.
Jika tidak ada godaan, apa arti pilihan?
Jika tidak ada kejahatan, apa arti perjuangan menuju kebaikan?
Jika tidak ada bisikan untuk berbuat buruk, apakah manusia yang memilih kebaikan benar-benar sedang memilih?
Di situlah syetan, secara paradoks, menjadi bagian dari ujian manusia.
Syetan menawarkan jalan. Tetapi manusia yang menentukan langkah.
Karena itu, syetan tidak bisa dijadikan kambing hitam untuk seluruh kejahatan manusia. Ia membisikkan, manusia yang memutuskan. Ia menggoda, manusia yang membuka pintu.
Barangkali justru di situlah letak keadilan Tuhan: **manusia tidak dihukum karena digoda, tetapi karena memilih mengikuti godaan ketika ia memiliki kemampuan untuk menolaknya.**
Syetan boleh menjadi simbol kejahatan.
Tetapi manusia tidak diciptakan untuk menjadi korbannya.
Sebab kalau seluruh dosa kita selalu kita lemparkan kepada syetan, kita sedang menghilangkan sesuatu yang paling mahal yang diberikan Tuhan kepada manusia: **kehendak bebas untuk memilih.**
Maka pertanyaan akhirnya bukan lagi, *“Mengapa Tuhan menciptakan syetan?”*
Melainkan:
**“Setelah Tuhan memberi kita akal, hati, dan pilihan—mengapa kita masih menyalahkan syetan atas kejahatan yang kita sendiri pilih?”**



