Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

White Lily

munira by munira
January 10, 2026
in Fiksi
0
Share on FacebookShare on Twitter

Ia datang seperti sesuatu yang tidak direncanakan alam, tetapi juga tidak sepenuhnya kebetulan. Tidak ada peristiwa besar yang menandai kehadirannya. Tidak ada momen yang bisa kusebut sebagai awal. Ia hanya muncul—perlahan—seperti embun yang mula-mula tak terlihat, lalu tiba-tiba sudah membasahi seluruh permukaan pagi.

Aku mengenal banyak orang, tetapi hanya sedikit yang sungguh melihat. Ia termasuk yang jarang itu. Cara ia memandang tidak seperti orang yang ingin memiliki, melainkan seperti seseorang yang sedang membaca halaman buku yang lama terselip. Ia tahu jeda-jeda yang selalu kulewati. Ia memahami kebiasaan-kebiasaan kecil yang bahkan tak pernah kuanggap penting. Seolah-olah ia tidak sedang mengenalku, melainkan mengingatku.

Itu yang membuatku gelisah.

Aku terbiasa dengan perhatian yang gaduh—yang menuntut, menagih, dan ingin segera dibalas. Perhatian semacam itu mudah kutolak. Namun perhatiannya berbeda. Ia tidak mendesak. Tidak menanyakan apa-apa. Tidak pula menunggu jawaban. Ia hanya ada, menetap, dan entah bagaimana, selalu tepat waktu. Seperti cahaya yang tahu kapan jendela akan sedikit terbuka.

Aku menyangkalnya. Bukan karena aku tidak merasakan apa-apa, melainkan karena aku terlalu merasakannya. Aku menamai kegelisahan itu sebagai kewajaran. Aku menyebut ketertarikan sebagai kebetulan. Aku menyebut keheningan sebagai ruang aman. Aku pandai memberi nama lain pada ketakutan.

Hari-hari berjalan dengan cara yang tampak biasa, tetapi diam-diam berubah. Ada jeda yang menjadi lebih panjang. Ada waktu yang terasa lebih lambat. Ada kehadiran yang bahkan terasa saat ia tidak sedang di sana. Aku mendapati diriku menunggu tanpa sadar sedang menunggu. Menyusun hari tanpa sengaja memasukkan kemungkinan tentangnya.

Di situlah aku menyadari satu hal yang tidak menyenangkan: aku sedang berbohong pada diriku sendiri dengan cara yang paling rapi.

Aku menikmati perhatiannya, tetapi menjaga jarak seolah itu pilihan sadar. Aku merawat perasaan, lalu menutupinya dengan logika. Aku ingin dekat, tetapi takut pada apa yang biasanya mengikuti kedekatan. Karena aku tahu, setiap rasa membawa tuntutan yang tidak pernah tertulis, tetapi selalu hadir.

Pada suatu titik, keheningan itu menjadi terlalu penuh. Bukan karena ia menekan, melainkan karena aku tidak lagi sanggup menampungnya sendiri. Kejujuran, pada akhirnya, tidak selalu datang sebagai keberanian. Kadang ia hanya datang sebagai kelelahan.

Kalimat itu keluar tanpa persiapan. Tidak besar. Tidak pula ingin dikenang. Ia hanya hadir seperti napas yang akhirnya dilepaskan setelah lama ditahan. Setelah itu, segalanya tidak menjadi lebih jelas—justru sebaliknya. Dunia tetap berjalan, tetapi dengan bobot yang berbeda.

Ia menanggapi dengan tenang. Tidak tergesa. Tidak juga menghindar. Seperti seseorang yang merapikan meja setelah percakapan panjang yang tak pernah benar-benar diucapkan. Ada simbol kecil yang ditinggalkannya—bukan sebagai jawaban, melainkan sebagai penanda bahwa sesuatu telah diakui, meski tidak dilanjutkan.

Dan di sanalah ketakutanku menemukan bentuknya.

Aku tidak takut padanya. Aku takut pada kelanjutan. Pada kemungkinan-kemungkinan yang menuntut keputusan. Pada relasi yang pelan-pelan berubah menjadi kepemilikan. Pada harapan yang, jika dibiarkan tumbuh, akan meminta arah. Aku tahu diriku: aku tidak takut mencinta, aku takut bertanggung jawab atas cinta itu.

Maka aku memilih berhenti sebelum melangkah terlalu jauh. Aku menyebutnya komitmen pada kewarasan. Aku menyebutnya menjaga batas. Aku menyebutnya kedewasaan. Aku ingin ia tetap berada di tempat yang aman—tidak terlalu dekat, tidak pula benar-benar jauh.

Dalam benakku, ia seperti teratai putih yang tumbuh di air tenang. Indah karena tidak dipetik. Utuh karena tidak dimiliki. Aku ingin ia tetap demikian: hadir sebagai sesuatu yang bisa dikagumi tanpa harus disentuh, dikenang tanpa harus disimpan.

Namun alam tidak pernah bertanya pada manusia tentang rencananya.

Ada malam-malam ketika pikiranku kembali ke sana, pada kemungkinan yang tidak kupilih. Pada kata-kata yang tidak kulanjutkan. Pada keberanian yang kutunda dengan sopan. Aku menyadari sesuatu yang tidak ingin kuakui sebelumnya: kadang kita menyebutnya pilihan, padahal itu hanya penundaan.

Aku tidak tahu ke mana semua ini akan bermuara. Aku bahkan tidak yakin apakah kejujuranku adalah awal atau akhir. Yang aku tahu, cinta—seperti teratai—tidak pernah sepenuhnya tunduk pada niat baik. Ia tumbuh ke arah cahaya, meski air di sekitarnya tenang dan seolah tidak mengundang.

Dan mungkin, di sanalah ironi paling manusiawi berdiam:
kita ingin menjaga keindahan dengan tidak menyentuhnya,
tetapi lupa bahwa keindahan tetap hidup—
dengan atau tanpa keberanian kita.

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Iman, Otoritas, dan Kebenaran

Next Post

Sehelai Rasa yang Tersisa

munira

munira

Related Posts

Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga

by munira
March 16, 2026
0

I. Ketika Manusia Pertama Kali Mendongak Pada mulanya, langit adalah kitab pertama yang dibaca manusia. Bayangkan diri Anda ribuan tahun...

Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

by munira
March 12, 2026
0

Oleh: Novita Sari Yahya Pertemuan Sederhana yang Membuka Renungan Pagi itu Jakarta berjalan seperti biasa. Kendaraan memenuhi jalan-jalan utama, orang-orang...

Agama: Invisible Business, Gagal Tapi Konsumen yang Disalahkan

by munira
March 3, 2026
0

Agama adalah satu dari sedikit “produk” yang tidak kasatmata, tetapi memiliki pasar paling loyal sepanjang sejarah manusia. Ia tidak dijual...

Perempuan Melawan Lupa

by munira
March 2, 2026
0

Oleh: Novita Sari Yahya Tema Hari Perempuan Internasional tahun 2025 datang seperti pengingat Hak, kesetaraan, dan pemberdayaan terasa dekat, tetapi...

Next Post
Sehelai Rasa yang Tersisa

Sehelai Rasa yang Tersisa

Takdir Itu Pilihan

Takdir Itu Pilihan

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Cinta Tanpa Penilaian
  • Perenungan Menjadi Tua dan Kebahagiaan Melihat Penerus-Penerusnya
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira