Aku pernah bersumpah
tak akan mengikat lagi
hati yang sudah letih
pada janji bernama selamanya.
Lalu kau hadir
seperti senja
yang tak kupinta
namun indah terlanjur memikat.
Ada cincin di jarimu,
ada nama lain
yang masih kau sebut
dalam doa-doa panjangmu.
Aku tahu,
aku seharusnya menjauh.
Tapi bagaimana
jika hati tak mau patuh
pada akal yang gemetar?
Kita diam-diam tumbuh
di tanah yang bukan milik kita,
namun bunga tetap mekar
meski tahu
musimnya bisa singkat.
Jika suatu hari
takdir membuka pintu,
aku tak berjanji dunia,
cukup bahu
tempat lelahmu bersandar.
Dan bila pintu itu
tak pernah terbuka,
biarlah rasa ini
menjadi rahasia indah
yang tak kita sesali
pernah ada.








