Seorang turis Australia berdiri di sebuah sudut Bali. Wajahnya tenang, tetapi matanya seperti sedang mencari sesuatu yang tidak tercantum dalam peta wisata.
“Siapa namamu?”
“Trini.”
“Ngapain saja di Bali?”
Ia tersenyum kecil.
**“I am discovering who I am.”**
Jawaban itu sederhana. Tetapi justru karena sederhanalah ia terasa dalam.
Kita sering bepergian untuk menemukan tempat. Mencari pantai yang indah, matahari terbenam, makanan yang enak, hotel yang nyaman, atau foto yang bisa dibawa pulang. Kita mengira perjalanan adalah perpindahan dari satu tempat ke tempat lain.
Padahal, mungkin perjalanan yang paling jauh bukanlah perjalanan menuju Bali, Jepang, Paris, atau New York.
Melainkan perjalanan menuju diri sendiri.
Trini mungkin datang ke Bali bukan sekadar untuk melihat pura, menikmati ombak, atau berjemur di pantai. Ia sedang mencoba mendengar sesuatu yang selama ini tertutup oleh kebisingan hidup: **suara dirinya sendiri.**
Ada kalanya kita terlalu sibuk menjadi seseorang bagi orang lain.
Menjadi anak yang baik.
Menjadi orang tua.
Menjadi profesional.
Menjadi pasangan.
Menjadi orang yang sukses.
Menjadi seseorang yang dianggap berhasil.
Sampai akhirnya kita lupa bertanya:
**“Sebenarnya, siapa aku?”**
Bali, dengan segala hiruk-pikuk turismenya, mungkin justru menjadi tempat yang aneh untuk mencari jawaban itu. Di antara turis, pedagang, suara motor, aroma dupa, debur ombak, dan matahari yang tenggelam perlahan, seseorang bisa tiba-tiba menemukan kesunyian.
Dan dalam kesunyian itulah pertanyaan-pertanyaan lama muncul kembali.
Apa yang sebenarnya aku inginkan?
Apa yang membuatku bahagia?
Apa yang selama ini aku kejar?
Dan apakah kehidupan yang sedang kujalani benar-benar kehidupanku?
Mungkin itulah makna perjalanan yang sesungguhnya.
Kita meninggalkan rumah bukan selalu karena ingin pergi. Kadang kita pergi karena ingin **kembali**—bukan kembali ke rumah, tetapi kembali kepada diri sendiri.
Trini datang ke Bali.
Ia tidak sedang mencari Bali.
Ia sedang mencari **Trini**.
Dan mungkin, tanpa kita sadari, sebagian besar dari kita juga sedang melakukan perjalanan yang sama.
Hanya saja, kita menyebutnya dengan nama yang berbeda: pekerjaan, karier, cinta, kesuksesan, uang, keluarga, atau perjalanan.
Padahal jauh di dalam diri, kita semua sedang mencari satu tempat yang paling sulit ditemukan:
**diri kita sendiri.**
*I am discovering who I am.*
Barangkali, itulah alasan terbaik untuk bepergian.
Bukan untuk menemukan dunia.
Tetapi untuk menemukan kembali **siapa kita di dalamnya.**






