Oleh: Yelly A. Salam
Suatu waktu, ketika saya duduk di halaman Gedung Sate, mata saya tertuju kepada seorang remaja perempuan di antara beberapa petugas kebersihan. Ia sedang menyapu halaman dengan tekun. Tidak ada wajah murung. Tidak ada gerutu. Yang tampak justru senyum yang sederhana, penampilan yang bersih, dan wajah yang memancarkan keteguhan.
Saya kemudian bertanya kepadanya, bersama Z Meiy.
“Neng, sudah lama bekerja sebagai OB?”
“Kurang lebih sudah tiga tahun,” jawabnya.
Ia bekerja dengan honor sesuai UMR. Sebelumnya, ia pernah bekerja di sebuah restoran, tetapi kemudian memilih keluar dan mencari pekerjaan lain. Yang membuat saya terdiam dan sekaligus bangga, di tengah kesibukannya bekerja, ia ternyata **sedang melanjutkan kuliah di Universitas Terbuka, semester empat, jurusan Accounting.**
Di sinilah saya belajar kembali bahwa hidup tidak selalu memberi seseorang jalan yang mudah.
Ada anak-anak yang untuk kuliah cukup membuka pintu rumah, lalu orang tua membiayai semuanya. Ada yang tidak perlu memikirkan uang kuliah, ongkos, makan, bahkan kebutuhan sehari-hari. Tetapi ada pula anak muda yang harus membagi waktunya antara mencari nafkah dan mengejar pendidikan.
Remaja ini memilih jalan yang kedua.
Ia bekerja. Apa pun pekerjaannya, selama halal dan baik, ia jalani dengan kepala tegak. Menjadi penyapu halaman bukan sesuatu yang membuatnya malu. Justru melalui pekerjaan itulah ia sedang berjuang mengangkat derajat dirinya dan, terutama, membahagiakan serta mengangkat derajat kedua orang tuanya.
**Betapa mulianya sebuah perjuangan yang tidak banyak bicara.**
Keringat membasahi pipinya yang masih mulus. Tangannya terus bergerak, menyapu daun-daun yang berserakan. Orang-orang berlalu-lalang di sekitarnya. Tidak terdengar keluhan. Tidak terdengar kata, “Maaf, saya mau lewat.” Ia hanya terus bekerja, sesekali menyapa dengan ramah.
Barangkali bagi sebagian orang, ia hanyalah seorang gadis yang sedang menyapu halaman.
Tetapi bagi saya, ia sedang menyapu jalan menuju masa depannya.
Kepada para pemimpin, kepada orang-orang yang hidup berkecukupan, kepada mereka yang memiliki kemampuan menyekolahkan anak dan cucunya hingga jenjang tertinggi, lihatlah kisah seperti ini.
Tidak semua anak muda memulai hidup dengan kemudahan.
Sebagian harus menukar lelah dengan cita-cita. Sebagian harus menukar keringat dengan lembar-lembar buku kuliah. Sebagian harus bekerja pada siang hari, kemudian belajar ketika malam datang.
Namun justru dari perjuangan seperti itulah sering kali lahir manusia-manusia tangguh.
Gadis belia, teruskan perjuanganmu.
**Jangan pernah malu dengan pekerjaan yang halal. Jangan pernah merasa rendah hanya karena tanganmu memegang sapu.**
Yang membuat seseorang mulia bukanlah pekerjaan apa yang dikenakannya, tetapi kejujuran, ketekunan, dan niat baik yang dibawanya dalam menjalani kehidupan.
Hari ini engkau mungkin menyapu halaman Gedung Sate.
Siapa tahu, suatu hari nanti engkau justru berdiri di tempat yang jauh lebih tinggi—memimpin sebuah perusahaan, menjadi akuntan profesional, menjadi pejabat, menjadi pemimpin masyarakat, atau bahkan menjadi pemimpin bangsa.
Tidak ada yang tahu ke mana kehidupan akan membawamu.
Sebab masa depan sering kali tumbuh diam-diam dari perjuangan kecil yang dilakukan setiap hari.
Tetaplah tersenyum meski lelah.
Tetaplah belajar meski kehidupan tidak selalu ramah.
Tetaplah bekerja dengan jujur meski tidak semua orang melihat perjuanganmu.
Dan tetaplah **istiqamah** menjalani kehidupan.
Kelak, ketika engkau telah sampai pada tempat yang kauimpikan, mungkin engkau akan menoleh ke belakang dan berkata:
*“Ternyata, sapu yang pernah kugenggam itu bukan sekadar alat untuk membersihkan halaman. Ia adalah bagian dari perjalanan yang membawaku menuju masa depan.”*
Selamat bekerja, gadis kecil.
Tetap semangat meraih cita-citamu.
**Tidak perlu malu. Tidak ada pekerjaan halal yang hina.**
Teruslah melangkah.
Karena hidup bukan tentang dari mana kita memulai, melainkan tentang seberapa kuat kita berjuang untuk sampai ke tempat yang kita impikan.
**Insya Allah, kisah perjuanganmu hari ini akan menjadi cerita indah dalam kehidupanmu kelak.**





