Ada sebuah pernyataan yang menarik untuk direnungkan: **“Orang yang altruistis tidak akan religius. Orang yang religius tidak akan altruistis.”** Alasannya, demikian dikatakan, karena orang altruistis melakukan kebaikan tanpa mengharapkan apa pun, bahkan tanpa mengharapkan pahala. Sementara orang religius melakukan kebaikan karena percaya kepada pahala, surga, atau balasan dari Tuhan.
Pernyataan itu terdengar provokatif. Tetapi justru karena provokatif, ia perlu dibedah lebih dalam.
Altruisme pada dasarnya adalah dorongan untuk melakukan sesuatu demi kepentingan orang lain, tanpa menjadikan keuntungan pribadi sebagai tujuan utama. Seorang altruistis menolong bukan karena ingin dipuji, bukan karena ingin mendapatkan imbalan, bahkan bukan karena ingin dicatat sebagai “orang baik”. Ia menolong karena melihat orang lain membutuhkan pertolongan.
Di titik inilah muncul pertanyaan filosofis yang menarik: **apakah sebuah kebaikan masih dapat disebut altruistis apabila di belakangnya terdapat harapan akan pahala?**
Misalnya, seseorang menyumbangkan uang kepada orang miskin. Ia tidak menerima uang kembali, tidak memperoleh jabatan, bahkan mungkin tidak dikenal oleh orang yang ditolong. Tetapi di dalam pikirannya terdapat keyakinan bahwa Tuhan akan memberikan pahala atas perbuatannya.
Secara sosial, perbuatannya tetap baik.
Tetapi secara filosofis, kita bisa bertanya: **apakah ia benar-benar melakukan kebaikan demi orang lain, atau demi keselamatan dirinya sendiri?**
Di sinilah perbedaan antara *doing good* dan *being altruistic* menjadi penting.
Seseorang dapat melakukan banyak kebaikan tanpa sepenuhnya altruistis. Ia mungkin berbuat baik karena takut hukuman Tuhan, mengharapkan surga, mencari ketenangan batin, ingin memperoleh pengakuan sosial, atau sekadar ingin merasa dirinya sebagai manusia yang baik.
Sebaliknya, seseorang yang tidak religius pun dapat memiliki moralitas yang sangat tinggi. Ia menolong orang lain bukan karena takut neraka atau mengharapkan surga, melainkan karena memiliki empati, rasa kemanusiaan, dan kesadaran bahwa penderitaan manusia adalah sesuatu yang patut dikurangi.
Namun, mengatakan bahwa **orang religius tidak mungkin altruistis** juga terlalu jauh.
Sebab agama tidak selalu mengajarkan manusia untuk berbuat baik demi imbalan. Dalam banyak tradisi keagamaan terdapat konsep ketulusan, pengorbanan, kasih sayang, welas asih, dan pelayanan kepada sesama yang justru menuntut manusia melampaui kepentingan dirinya sendiri.
Bahkan seorang yang religius dapat sampai pada tingkat tertentu ketika ia tidak lagi memikirkan “apa yang akan saya dapatkan”, melainkan hanya berpikir, **“apa yang dapat saya lakukan untuk orang lain?”**
Karena itu, persoalannya bukan semata-mata **religius atau tidak religius**, melainkan **apa yang menjadi motif terdalam dari sebuah tindakan.**
Menarik pula ketika pernyataan tersebut mengaitkan altruisme dengan agama Buddha dan menyebut bahwa altruisme tidak mengenal konsep pahala.
Di sini kita perlu berhati-hati.
Dalam Buddhisme sendiri terdapat konsep **karma, kebajikan, dan merit (punya)**. Karena itu, tidak tepat jika secara sederhana dikatakan bahwa Buddhisme sama sekali tidak mengenal konsep akibat moral atau pahala. Yang lebih tepat adalah bahwa dalam pemikiran Buddhis, tindakan baik dapat ditempatkan dalam kerangka pembebasan dari keterikatan dan penderitaan, bukan semata-mata sebagai transaksi: *“Saya berbuat baik sekarang agar nanti mendapat hadiah.”*
Dan justru di sinilah persoalannya menjadi semakin menarik.
Sebab **kebaikan yang paling murni mungkin adalah kebaikan yang tidak lagi sibuk menghitung keuntungan dirinya sendiri.**
Bayangkan seseorang menolong seorang tua menyeberang jalan. Tidak ada kamera. Tidak ada media sosial. Tidak ada pujian. Tidak ada sertifikat. Tidak ada tepuk tangan.
Ia hanya melihat seseorang membutuhkan bantuan, lalu membantu.
Selesai.
Ia kemudian pergi dan melanjutkan kehidupannya.
Tidak ada kalkulator moral di kepalanya.
Tidak ada pikiran, *“Berapa pahala yang saya dapat?”*
Tidak ada pula pikiran, *“Semoga orang-orang tahu bahwa saya orang baik.”*
Mungkin justru di situlah bentuk kebaikan yang paling sederhana sekaligus paling sulit.
Sebab manusia sering kali ingin mendapatkan sesuatu dari kebaikannya. Kalau bukan uang, maka penghargaan. Kalau bukan penghargaan, maka pujian. Kalau bukan pujian, maka pengakuan dari Tuhan. Bahkan kadang-kadang kita melakukan kebaikan agar kita sendiri merasa sebagai manusia yang baik.
Ini bukan berarti kebaikan tersebut menjadi tidak bernilai.
Tetapi ia memperlihatkan bahwa **motif manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar hitam dan putih: religius versus altruistis.**
Orang religius bisa altruistis.
Orang tidak religius juga bisa egoistis.
Orang yang mengaku altruistis pun bisa diam-diam mencari pengakuan.
Dan orang yang beragama bisa melakukan kebaikan dengan ketulusan yang luar biasa, tanpa pernah menghitung balasannya.
Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan:
**“Apakah kamu religius atau altruistis?”**
Melainkan:
“Ketika kamu berbuat baik dan tidak seorang pun mengetahuinya, apakah kamu masih mau melakukannya?”
Jika jawabannya iya, kita telah mendekati inti altruisme.
Sebab pada akhirnya, ukuran kebaikan bukanlah seberapa sering kita berbicara tentang kebaikan, seberapa religius kita terlihat, atau seberapa banyak pahala yang kita bayangkan akan kita terima.
Ukuran yang lebih sederhana adalah: seberapa jauh kita mampu melakukan sesuatu yang baik ketika tidak ada keuntungan bagi diri kita sendiri.
Di situlah kebaikan berhenti menjadi transaksi.
Dan berubah menjadi kemanusiaan.





