Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

“Jarene” atau Katanya: Menyusuri Kebenaran yang Terlewatkan

munira by munira
January 12, 2025
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Dalam kehidupan yang begitu dipenuhi oleh flow of information, ada sebuah kata yang kerap kali muncul, seolah menjadi mantra dalam kehidupan sosial kita, yakni “jarene”—atau, katanya. Kata ini seringkali menjadi pengantar bagi seseorang yang tidak lagi melakukan inquiry terhadap suatu hal, yang lebih memilih untuk menerima truths yang telah dikonstruksi oleh mainstream thinking. Dengan begitu, ia menjadi bagian dari habitus kolektif yang tidak pernah mempertanyakan lagi makna atau asal-usulnya.

“Jarene”, atau katanya, adalah symbolic gesture yang tumbuh subur dalam masyarakat yang lebih suka mendengarkan daripada merenungkan. Ia bukanlah representasi dari kebenaran yang melalui proses rational discourse, melainkan hasil dari social consensus yang diterima begitu saja tanpa telaah kritis. Dan dalam kenyataannya, kebenaran semacam ini lebih sering berperan sebagai pseudo-truth—sebuah kebenaran yang diterima bukan karena pemahaman mendalam, tetapi karena pengaruh sosial dan dominasi diskursus yang ada.

Mungkin kita perlu bertanya: apakah kita hanya sekadar performativity dari kata-kata yang kita dengar? Ataukah kita telah terperangkap dalam representasi kebenaran yang tak pernah kita uji? Sebuah reified belief yang tanpa kita sadari menjelma menjadi kebenaran tanpa kita coba dekonstruksi. “Jarene” adalah cermin dari keadaan tersebut. Dalam konteks ini, kata tersebut menggambarkan peran kita sebagai bagian dari masyarakat yang lebih suka mematuhi status quo tanpa berani membuka ruang untuk epistemic rupture—patah atau robeknya cara kita memahami dunia.

Masyarakat kita, dalam banyak aspek, sering kali terpaku pada prinsip consensus reality. Apa yang katanya benar, itu yang diterima tanpa proses refleksi atau evaluasi mendalam. Namun, apa yang terjadi ketika kita membuka pikiran kita untuk bertanya lebih jauh, untuk meragukan dan mencari bukti konkret? Bukankah dalam epistemological violence yang terjadi, kita sering kali dipaksa untuk mengabaikan kebenaran yang lebih kompleks dan berlapis? Kebenaran yang tidak hanya terungkap dalam superficiality, tetapi dalam kedalaman pemikiran yang jauh lebih luas.

Lalu, mengapa kita harus terus membiarkan “katanya” menjadi panduan kita? Bukankah setiap individu, sebagai bagian dari collective intelligence, berhak untuk menggali lebih jauh, mencari makna di balik setiap kata? Dalam dunia yang penuh dengan information overload, kita seringkali terjebak dalam echo chamber, di mana semua yang kita dengar hanya memperkuat keyakinan yang ada tanpa ada ruang untuk pertanyaan. Di sinilah “jarene” menjadi sekadar rekayasa sosial, yang membuat kita enggan keluar dari zona nyaman untuk menyelidiki kebenaran yang lebih hakiki.

Kita hidup di dunia yang tak lagi bisa hanya mengandalkan authority atau tradition sebagai sumber kebenaran. Oleh karena itu, kita harus meruntuhkan hegemonic discourse yang menganggap bahwa kebenaran hanya dapat ditemukan dalam apa yang umum diterima tanpa pertanyaan. Jika kita terus membiarkan kata “katanya” mendikte kehidupan kita, kita hanya akan terjebak dalam circular reasoning, yang tak pernah mencapai titik terang.

Jadi, marilah kita gunakan kemampuan critical thinking kita untuk menerobos ketidakpastian ini. Menggali, meragukan, dan membuka diri terhadap pemahaman baru. Karena dalam interrogation terhadap apa yang katanya benar, kita mungkin menemukan kebenaran yang lebih dalam dan lebih otentik, bukan hanya berdasarkan apa yang kita dengar, tetapi juga berdasarkan apa yang kita percayai setelah menelitinya dengan sepenuh hati. Sebuah epistemic awakening yang membawa kita menuju pemahaman yang lebih mendalam tentang dunia di sekitar kita.

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Menemukan Tuhan dalam Kebingungan

Next Post

Hidup Seperti Mimpi yang Abadi

munira

munira

Related Posts

Jangan Petik Bunga Itu: Ia Adalah Kelamin

Iman Tanpa Akal: Jalan Pintas Menuju Kesesatan Riwayat

by munira
January 12, 2026
0

Ada satu kebiasaan berbahaya yang kian tumbuh di ruang-ruang dakwah modern: menerima setiap riwayat atas nama “katanya Nabi” tanpa bertanya,...

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

by munira
January 11, 2026
0

Banyak orang menyebut perceraian sebagai nasib. Seolah ia adalah badai yang datang tanpa diundang, merobohkan rumah tangga yang awalnya tampak...

Takdir Itu Pilihan

Takdir Itu Pilihan

by munira
January 10, 2026
0

Sejak kecil kita dijejali satu kalimat yang terdengar sakral: “Itu sudah takdir.”Kalimat ini sering menjadi penutup dari pertanyaan yang tak...

Sehelai Rasa yang Tersisa

Sehelai Rasa yang Tersisa

by munira
January 10, 2026
0

Aku pernah bersumpahtak akan mengikat lagihati yang sudah letihpada janji bernama selamanya. Lalu kau hadirseperti senjayang tak kupintanamun indah terlanjur...

Next Post
Hidup Seperti Mimpi yang Abadi

Hidup Seperti Mimpi yang Abadi

Kebahagiaan Sejati Adalah Residu dari Harta yang Melimpah???

Kebahagiaan Sejati Adalah Residu dari Harta yang Melimpah???

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Iman Tanpa Akal: Jalan Pintas Menuju Kesesatan Riwayat
  • Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira