Di persimpangan hidup, seorang perempuan paruh baya berhadapan dengan kenyataan yang tak terelakkan—serangan jantung yang mengirimnya ke meja operasi, seperti arena pertarungan terakhir antara hidup dan mati. Dalam keheningan ruang operasi, ia melihat sosok malaikat mendekat, bukan dalam wujud menyeramkan, tetapi memancarkan aura serba tenang.
“Apakah hidupku telah sampai pada titik finalitas ini?” tanyanya, dengan suara getir yang bergetar di antara harapan dan ketakutan.
Malaikat, dengan senyum yang lembut bak purnama, menjawab, “Menurut destinatum, engkau masih memiliki sisa waktu: tiga dekade, tiga bulan, dan dua puluh satu hari.”
Jawaban itu membangkitkan semangat hidupnya. Setelah kondisinya pulih, ia memutuskan untuk rebirth, tetapi bukan dalam dimensi spiritual. Ia memilih transformasi fisik—mengubah dirinya menjadi refleksi dari ilusi vanitas manusia. Operasi wajah, suntik bibir, implan tubuh, hingga menyemir rambut menjadi hitam pekat, semua ia lakukan demi menyambut waktu yang dianggapnya masih panjang.
Namun, waktu adalah entitas yang misterius. Ia tidak tunduk pada arrogantia manusia. Ketika perempuan itu melangkah keluar dari rumah sakit, penuh dengan confidentia atas diri barunya, takdir menghadangnya di jalan. Sebuah ambulans, simbol ironi kehidupan, menabraknya hingga ia terkulai tak bernyawa di jalan raya.
Malaikat yang sama datang menjemput, wajahnya kali ini memancarkan campuran rasa simpati dan kebingungan.
“Bukankah engkau berjanji aku masih memiliki tiga dekade lagi? Mengapa engkau membiarkan ini terjadi?” serunya, dengan nada protes yang mengguncang alam sunyi.
Malaikat tersenyum getir. “Aku tidak mengenalimu, wahai insan. Penampilan barumu membuatku confusus. Aku pangling.”
Jawaban itu adalah tamparan bagi keangkuhan manusia yang seringkali lupa bahwa tubuh hanyalah wadah, sementara jiwa adalah hakikat yang sejati.
Pesan Refleksi
Kisah ini bukan sekadar humor belaka, tetapi sebuah alegori tentang impermanence. Dalam perjalanan hidup, manusia sering tergoda oleh aesthetica dan melupakan substansi. Waktu adalah anugerah, tetapi ia juga bisa menjadi musuh jika kita terjebak dalam ilusi duniawi.
Maka, berhati-hatilah pada keinginan yang berlebihan, karena sering kali, dalam usaha kita memahat rupa dunia, kita lupa bahwa takdir tidak dapat diubah oleh kehendak semata. Jangan sampai, di persimpangan akhir, bahkan malaikat pun pangling pada siapa kita sebenarnya.
Catatan : Istilah asing seperti destinatum (takdir), vanitas (kesombongan), rebirth (kelahiran kembali), confidentia (kepercayaan diri), dan impermanence (ketidakkekalan). Semoga memberikan kesan mendalam.









