Tuhan, aku ingin bertanya kepada-Mu. Ketika Engkau melihat manusia yang Kau ciptakan—ada yang telanjang dalam kerapuhan mereka, ada yang berhijab melindungi kehormatan diri, dan ada yang berjalan biasa-biasa saja tanpa membedakan antara yang sakral dan profan—apa yang Engkau rasakan? Apakah Engkau menilai mereka dengan aturan yang tersembunyi di balik tabir rahasia-Mu, ataukah Engkau tersenyum, memahami bahwa ini hanyalah bagian dari spektrum keberadaan mereka?
Lihatlah mereka, Tuhan, sebagian dari manusia itu tunduk dalam sujud panjang, menyembah-nyembah seraya memohon. Dalam munajat mereka, ada tangis yang tulus dan permohonan yang mendesak, meminta rezeki, kesehatan, dan kebahagiaan. Di sisi lain, ada mereka yang bahkan tak mengenal-Mu, yang tak pernah mengucap doa, namun tangan mereka bekerja, menggali potensi bumi-Mu, menikmati limpahan karunia-Mu yang seperti infinity pool tanpa tepi.
Apakah Engkau membedakan mereka, Tuhan? Ataukah mereka semua hanya bagian dari tapestry besar yang Engkau anyam dengan cinta yang tak mengenal syarat?
Ketika sebagian manusia berlomba-lomba mengkuduskan nama-Mu dalam ritual yang kaku, yang lain menemukan-Mu dalam getar daun yang jatuh, dalam desah angin, dan dalam aliran sungai yang tenang. Lalu, bagaimana Engkau memandang mereka yang tak peduli pada hukum-hukum yang tertulis, tetapi secara alami selaras dengan ordo alam semesta-Mu?
Aku bertanya lagi, Tuhan. Di mana posisi-Mu ketika manusia saling menghakimi atas nama-Mu? Ketika mereka mengklaim diri sebagai wakil-Mu, memerintah yang lain untuk tunduk pada tafsir sempit yang mereka anggap suci? Bukankah Engkau Maha Luas, seperti cosmos yang tak terhingga?
Tuhan, aku ingin tahu. Apakah Engkau melihat manusia dengan kasih sayang seperti agape, yang melampaui batas pemahaman kita? Ataukah Engkau berdiri sebagai Deus Absconditus, Tuhan yang tersembunyi, membiarkan kami berjalan di atas jalan yang kami pilih sendiri, tanpa intervensi langsung?
Dan jika manusia adalah refleksi kecil dari pencipta-Mu, mengapa mereka terbelah dalam kutub-kutub moralitas dan keyakinan? Mengapa yang satu merasa lebih mulia daripada yang lain, hanya karena pakaian, ibadah, atau ketiadaan doa?
Tuhan, jawablah, meski hanya dengan keheningan-Mu yang abadi. Karena dalam keheningan itu, aku belajar bahwa mungkin Engkau bukan hanya Sang Hakim, tetapi juga Sang Penyair, Sang Seniman Agung yang menciptakan dunia ini sebagai kanvas bagi kebebasan manusia.
Bukankah akhirnya, Tuhan, semua jalan ini kembali kepada-Mu, seperti rivers return to the sea? Dalam segala perbedaan yang ada, kami hanya serpihan kecil dari ketakterhinggaan-Mu.
Aku hanya ingin tahu, Tuhan. Apa sikap-Mu? Ataukah sebenarnya pertanyaan ini adalah cermin dari kebingunganku sendiri, sebuah cara untuk memahami rahasia cinta-Mu yang begitu besar, yang unfathomable?









