Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Tuhan, Ketika Kau Memandang Manusia Telanjang?

Bertanya kepada Tuhan: Sebuah Renungan Tentang Manusia

munira by munira
December 25, 2024
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Tuhan, aku ingin bertanya kepada-Mu. Ketika Engkau melihat manusia yang Kau ciptakan—ada yang telanjang dalam kerapuhan mereka, ada yang berhijab melindungi kehormatan diri, dan ada yang berjalan biasa-biasa saja tanpa membedakan antara yang sakral dan profan—apa yang Engkau rasakan? Apakah Engkau menilai mereka dengan aturan yang tersembunyi di balik tabir rahasia-Mu, ataukah Engkau tersenyum, memahami bahwa ini hanyalah bagian dari spektrum keberadaan mereka?

Lihatlah mereka, Tuhan, sebagian dari manusia itu tunduk dalam sujud panjang, menyembah-nyembah seraya memohon. Dalam munajat mereka, ada tangis yang tulus dan permohonan yang mendesak, meminta rezeki, kesehatan, dan kebahagiaan. Di sisi lain, ada mereka yang bahkan tak mengenal-Mu, yang tak pernah mengucap doa, namun tangan mereka bekerja, menggali potensi bumi-Mu, menikmati limpahan karunia-Mu yang seperti infinity pool tanpa tepi.

Apakah Engkau membedakan mereka, Tuhan? Ataukah mereka semua hanya bagian dari tapestry besar yang Engkau anyam dengan cinta yang tak mengenal syarat?

Ketika sebagian manusia berlomba-lomba mengkuduskan nama-Mu dalam ritual yang kaku, yang lain menemukan-Mu dalam getar daun yang jatuh, dalam desah angin, dan dalam aliran sungai yang tenang. Lalu, bagaimana Engkau memandang mereka yang tak peduli pada hukum-hukum yang tertulis, tetapi secara alami selaras dengan ordo alam semesta-Mu?

Aku bertanya lagi, Tuhan. Di mana posisi-Mu ketika manusia saling menghakimi atas nama-Mu? Ketika mereka mengklaim diri sebagai wakil-Mu, memerintah yang lain untuk tunduk pada tafsir sempit yang mereka anggap suci? Bukankah Engkau Maha Luas, seperti cosmos yang tak terhingga?

Tuhan, aku ingin tahu. Apakah Engkau melihat manusia dengan kasih sayang seperti agape, yang melampaui batas pemahaman kita? Ataukah Engkau berdiri sebagai Deus Absconditus, Tuhan yang tersembunyi, membiarkan kami berjalan di atas jalan yang kami pilih sendiri, tanpa intervensi langsung?

Dan jika manusia adalah refleksi kecil dari pencipta-Mu, mengapa mereka terbelah dalam kutub-kutub moralitas dan keyakinan? Mengapa yang satu merasa lebih mulia daripada yang lain, hanya karena pakaian, ibadah, atau ketiadaan doa?

Tuhan, jawablah, meski hanya dengan keheningan-Mu yang abadi. Karena dalam keheningan itu, aku belajar bahwa mungkin Engkau bukan hanya Sang Hakim, tetapi juga Sang Penyair, Sang Seniman Agung yang menciptakan dunia ini sebagai kanvas bagi kebebasan manusia.

Bukankah akhirnya, Tuhan, semua jalan ini kembali kepada-Mu, seperti rivers return to the sea? Dalam segala perbedaan yang ada, kami hanya serpihan kecil dari ketakterhinggaan-Mu.

Aku hanya ingin tahu, Tuhan. Apa sikap-Mu? Ataukah sebenarnya pertanyaan ini adalah cermin dari kebingunganku sendiri, sebuah cara untuk memahami rahasia cinta-Mu yang begitu besar, yang unfathomable?

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Menantang Arus Dunia: Strategi dalam Kesunyian

Next Post

Malaikat yang Pangling: Refleksi atas Waktu, Takdir, dan Kesombongan Manusia

munira

munira

Related Posts

Jangan Petik Bunga Itu: Ia Adalah Kelamin

Iman Tanpa Akal: Jalan Pintas Menuju Kesesatan Riwayat

by munira
January 12, 2026
0

Ada satu kebiasaan berbahaya yang kian tumbuh di ruang-ruang dakwah modern: menerima setiap riwayat atas nama “katanya Nabi” tanpa bertanya,...

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

by munira
January 11, 2026
0

Banyak orang menyebut perceraian sebagai nasib. Seolah ia adalah badai yang datang tanpa diundang, merobohkan rumah tangga yang awalnya tampak...

Takdir Itu Pilihan

Takdir Itu Pilihan

by munira
January 10, 2026
0

Sejak kecil kita dijejali satu kalimat yang terdengar sakral: “Itu sudah takdir.”Kalimat ini sering menjadi penutup dari pertanyaan yang tak...

Sehelai Rasa yang Tersisa

Sehelai Rasa yang Tersisa

by munira
January 10, 2026
0

Aku pernah bersumpahtak akan mengikat lagihati yang sudah letihpada janji bernama selamanya. Lalu kau hadirseperti senjayang tak kupintanamun indah terlanjur...

Next Post
Malaikat yang Pangling: Refleksi atas Waktu, Takdir, dan Kesombongan Manusia

Malaikat yang Pangling: Refleksi atas Waktu, Takdir, dan Kesombongan Manusia

Kepercayaan Hadir Sebagai Suara Bising Dalam Jiwa Yang Resah

Kepercayaan Hadir Sebagai Suara Bising Dalam Jiwa Yang Resah

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Iman Tanpa Akal: Jalan Pintas Menuju Kesesatan Riwayat
  • Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira