Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Arts

Puisi: Kalimat Pendek, Pikiran Panjang

munira by munira
April 29, 2025
in Arts, Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ali Syarief

Di antara derasnya informasi dan cepatnya dunia menilai segala sesuatu dari panjang-pendeknya narasi, puisi hadir sebagai anomali yang membebaskan. Ia pendek, kadang hanya satu baris, tapi sesungguhnya adalah hasil dari proses berpikir yang panjang, dalam, dan berlapis makna. Seperti kata Chairil Anwar, “Aku ini binatang jalang…”—satu larik yang bisa membuka diskusi tentang eksistensi, kemerdekaan, dan pemberontakan.

Puisi bukan sekadar permainan rima atau metafora; ia adalah latihan menyaring pikiran, menggali emosi, dan memberi bentuk estetis pada dunia yang kacau. Setiap kata dalam puisi bukan hasil letupan spontan semata, tetapi buah dari perenungan yang panjang. Kata-kata dalam puisi lahir dari kesadaran penuh bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tapi juga medium kontemplasi dan transformasi.

Maka menulis puisi adalah cara sederhana namun elegan untuk melatih kepekaan dan kejernihan berpikir. Ia tidak memerlukan alat yang rumit, cukup pena dan secarik kertas (atau jari dan layar), namun ia mengharuskan seseorang mendengar suara hati dan gemuruh dunia luar dalam keheningan.

Karena itu, barangkali kita perlu kembali mengajak orang menulis puisi. Bukan karena semua orang harus menjadi penyair, melainkan karena di dalam puisi, seseorang belajar menyusun kata demi kata dengan penuh tanggung jawab. Ia belajar bahwa satu kata bisa mengandung seribu tafsir; bahwa satu jeda bisa menjadi tempat bersembunyi bagi makna yang tak terucap.

Dalam puisi, kita belajar bahwa yang pendek belum tentu ringan, dan yang sedikit belum tentu remeh. Justru dalam ketakberlebihan itulah puisi mengajarkan kita tentang ketepatan berpikir dan keindahan berbicara. Sebab, seperti yang saya yakini: puisi adalah kalimat pendek, tetapi produk berpikir panjang—penuh makna dan indah.

Dan ketika kata-kata puisi berbenturan langsung dengan realitas kekuasaan yang menipu, ia menjelma menjadi suara kebenaran. Sebuah puisi berikut adalah contoh: bagaimana satu lidah bisa merangkai janji, namun justru mengubur harapan.

Lidahmu

Lidahmu berkelok seperti sungai di hutan,
Menjanjikan oasis di padang tandus,
Tapi hanya ilusi yang kau hadirkan,
Rakyat menanti, kenyataan pun tak mampu berdiri tegak.

Kata-katamu mengalir deras, penuh janji manis,
Namun, di tiap sudut negeri, tangis tak terhapuskan,
Jembatan impian yang kau bangun,
Hanyalah jalan ke jurang harapan yang kau hancurkan.

Apa makna kata “kerja” yang kau agungkan?
Jika rakyat tetap bekerja untuk lapar dan haus,
Apa arti “keadilan” yang kau janjikan?
Jika hukum hanya menjadi alat kekuasaan.

Oh, lidah yang memutar fakta,
Menyulap yang hitam menjadi putih di layar kaca,
Kau pikir sejarah akan melupakan?!
Namun jejak kebohonganmu terukir dalam hati yang terluka.

Kami dengar suara-suaramu,
Namun gema kebohongan lebih keras terdengar,
Kami lihat senyummu di layar,
Namun air mata kami lebih nyata di tanah.

Lidahmu, wahai pemimpin negeri,
Adalah cermin dari hatimu yang tersembunyi,
Kau tak bisa menipu waktu,
Karena kebenaran akan datang mengetuk pintu.

Maka ingatlah, wahai yang pernah dijanjikan,
Kami tak akan diam, kami akan terus bersaksi,
Karena lidahmu, akhirnya menjelaskan siapa dirimu,
Dan kami, rakyat, adalah saksi dari dusta yang kau taburkan.

Dengan puisi, suara kecil bisa menggema. Dengan puisi, mereka yang tertindas bisa bicara. Dan dengan puisi pula, kita bisa belajar bahwa kata-kata bukan hanya soal estetika, tetapi juga tentang keberanian menyuarakan kebenaran.

 

ADVERTISEMENT
Previous Post

Syurga Itu Mahal Sekali – Tiket Terakhir Bernama “La ilaha illallah”

Next Post

Tuhan Pun Akan Kulawan – Bila Kekuasaan Bertingkah Seperti Dewa

munira

munira

Related Posts

Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri

Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri

by munira
September 15, 2026
0

*Kita berperang sengit di dalam diri, lalu apa gunanya perang dengan orang lain?* — Jalaluddin Rumi Ada perang yang tidak...

BERJALANLAH DI BUMI, BUKAN SEKADAR KE BAITULLAH – Ketika Al-Qur’an Memerintah “Fasīrū” dan “Fantashirū”, tetapi Tidak Berkata “Berhajilah!”

BERJALANLAH DI BUMI, BUKAN SEKADAR KE BAITULLAH – Ketika Al-Qur’an Memerintah “Fasīrū” dan “Fantashirū”, tetapi Tidak Berkata “Berhajilah!”

by munira
September 14, 2026
0

Oleh: Ali Syarief Ada sesuatu yang menarik dalam cara Al-Qur’an menggunakan bahasa ketika berbicara tentang perjalanan manusia. Al-Qur’an berkali-kali menggunakan...

Kalau Doa Sudah Cukup, Mengapa Nabi Harus Berperang?

by munira
September 13, 2026
0

Oleh Ali Syarief Ada satu pertanyaan sederhana yang jarang kita ajukan dengan serius: kalau doa memang bisa menjadi jalan utama...

DI ANTARA JUBAH, HASRAT, DAN PERNIKAHAN – Ketika Kesucian Berhadapan dengan Tubuh Manusia

DI ANTARA JUBAH, HASRAT, DAN PERNIKAHAN – Ketika Kesucian Berhadapan dengan Tubuh Manusia

by munira
September 12, 2026
0

By Ali Syarief Ada paradoks tua dalam kehidupan manusia: Semakin tinggi seseorang diminta meninggalkan dunia, semakin besar pula pertanyaan tentang...

Next Post

Tuhan Pun Akan Kulawan – Bila Kekuasaan Bertingkah Seperti Dewa

Nikmat Apalagi yang Kuingkari

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri
  • BERJALANLAH DI BUMI, BUKAN SEKADAR KE BAITULLAH – Ketika Al-Qur’an Memerintah “Fasīrū” dan “Fantashirū”, tetapi Tidak Berkata “Berhajilah!”
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira