Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Malaikat yang Pangling: Refleksi atas Waktu, Takdir, dan Kesombongan Manusia

munira by munira
December 25, 2024
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Di persimpangan hidup, seorang perempuan paruh baya berhadapan dengan kenyataan yang tak terelakkan—serangan jantung yang mengirimnya ke meja operasi, seperti arena pertarungan terakhir antara hidup dan mati. Dalam keheningan ruang operasi, ia melihat sosok malaikat mendekat, bukan dalam wujud menyeramkan, tetapi memancarkan aura serba tenang.

“Apakah hidupku telah sampai pada titik finalitas ini?” tanyanya, dengan suara getir yang bergetar di antara harapan dan ketakutan.

Malaikat, dengan senyum yang lembut bak purnama, menjawab, “Menurut destinatum, engkau masih memiliki sisa waktu: tiga dekade, tiga bulan, dan dua puluh satu hari.”

Jawaban itu membangkitkan semangat hidupnya. Setelah kondisinya pulih, ia memutuskan untuk rebirth, tetapi bukan dalam dimensi spiritual. Ia memilih transformasi fisik—mengubah dirinya menjadi refleksi dari ilusi vanitas manusia. Operasi wajah, suntik bibir, implan tubuh, hingga menyemir rambut menjadi hitam pekat, semua ia lakukan demi menyambut waktu yang dianggapnya masih panjang.

Namun, waktu adalah entitas yang misterius. Ia tidak tunduk pada arrogantia manusia. Ketika perempuan itu melangkah keluar dari rumah sakit, penuh dengan confidentia atas diri barunya, takdir menghadangnya di jalan. Sebuah ambulans, simbol ironi kehidupan, menabraknya hingga ia terkulai tak bernyawa di jalan raya.

Malaikat yang sama datang menjemput, wajahnya kali ini memancarkan campuran rasa simpati dan kebingungan.

“Bukankah engkau berjanji aku masih memiliki tiga dekade lagi? Mengapa engkau membiarkan ini terjadi?” serunya, dengan nada protes yang mengguncang alam sunyi.

Malaikat tersenyum getir. “Aku tidak mengenalimu, wahai insan. Penampilan barumu membuatku confusus. Aku pangling.”

Jawaban itu adalah tamparan bagi keangkuhan manusia yang seringkali lupa bahwa tubuh hanyalah wadah, sementara jiwa adalah hakikat yang sejati.

Pesan Refleksi

Kisah ini bukan sekadar humor belaka, tetapi sebuah alegori tentang impermanence. Dalam perjalanan hidup, manusia sering tergoda oleh aesthetica dan melupakan substansi. Waktu adalah anugerah, tetapi ia juga bisa menjadi musuh jika kita terjebak dalam ilusi duniawi.

Maka, berhati-hatilah pada keinginan yang berlebihan, karena sering kali, dalam usaha kita memahat rupa dunia, kita lupa bahwa takdir tidak dapat diubah oleh kehendak semata. Jangan sampai, di persimpangan akhir, bahkan malaikat pun pangling pada siapa kita sebenarnya.

Catatan : Istilah asing seperti destinatum (takdir), vanitas (kesombongan), rebirth (kelahiran kembali), confidentia (kepercayaan diri), dan impermanence (ketidakkekalan). Semoga memberikan kesan mendalam.

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Tuhan, Ketika Kau Memandang Manusia Telanjang?

Next Post

Kepercayaan Hadir Sebagai Suara Bising Dalam Jiwa Yang Resah

munira

munira

Related Posts

Jangan Segala Urusan Diserahkan kepada Allah

by munira
June 24, 2026
0

Muniranews - Ada satu kebiasaan yang diam-diam tumbuh dalam sebagian masyarakat kita: terlalu mudah menyerahkan segala urusan kepada Allah, bahkan...

SEJELEK-JELEK MUKA SAYA: KETIKA SEDANG MARAH

by munira
June 24, 2026
0

Ada satu wajah yang paling tidak saya sukai dalam hidup ini. Bukan wajah musuh. Bukan wajah orang yang pernah menyakiti...

Jika Tak Mampu Menjadi Cahaya, Jangan Menjadi Luka

by munira
June 15, 2026
0

Ketika tangan belum mampu memberi manfaat, setidaknya jangan menjadi tangan yang melukai. Ketika lisan belum mampu menyejukkan, jangan sampai berubah...

Keghaiban yang Diciptakannya Sendiri

by munira
June 14, 2026
0

Ada kalanya manusia tidak jatuh cinta pada kenyataan, melainkan pada ruang-ruang samar yang dibangunnya sendiri. Bukan pada apa yang benar-benar...

Next Post
Kepercayaan Hadir Sebagai Suara Bising Dalam Jiwa Yang Resah

Kepercayaan Hadir Sebagai Suara Bising Dalam Jiwa Yang Resah

Dzat, Sifat, dan Nama: Refleksi Ketuhanan dalam Kehidupan

Dzat, Sifat, dan Nama: Refleksi Ketuhanan dalam Kehidupan

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Jangan Segala Urusan Diserahkan kepada Allah
  • SEJELEK-JELEK MUKA SAYA: KETIKA SEDANG MARAH
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira