Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Kompas Moral Zaman Now: Jarum yang Enggan Menoleh ke Atas

munira by munira
April 21, 2025
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Konon, manusia diberkahi dengan hati nurani sebagai kompas batin. Tapi entah bagaimana, kompas zaman sekarang sepertinya sudah dimodifikasi: jarumnya lebih suka menunjuk ke bawah, tempat di mana nafsu dan kepentingan pribadi berkumpul seperti arisan elit—meriah, ramai, dan penuh strategi culas. Arah ke tengah, tempat moral seharusnya duduk manis sebagai titik keseimbangan, kini hanya sesekali disinggahi, itu pun seperti mampir ke warung sebentar—sekadar basa-basi.

Sementara itu, arah ke atas? Ke tempat akhlak tinggal dan menunggu dengan sabar? Ah, jangan terlalu berharap. Jarum itu enggan menengadah, barangkali takut silau oleh cahaya tanggung jawab, takut tertusuk oleh idealisme, atau mungkin cuma pegal karena terlalu lama terbiasa membungkuk pada kekuasaan dan fulus.

Kita hidup di zaman ketika “pragmatisme” dipuja laksana dewa baru. Bahkan ada yang bilang, kalau bisa sukses dengan memotong tikungan dan menyingkirkan moral di persimpangan, mengapa harus repot-repot lewat jalan lurus? Jalan berliku, gelap, penuh jebakan nafsu, justru dianggap jalan tol menuju kemenangan. Selamat datang di republik kompas miring.

Di sini, yang punya prinsip malah dituduh sok suci. Yang punya akhlak dicap tak fleksibel. Yang berbicara tentang nilai-nilai, segera dibisiki, “Itu nggak laku, Bro.” Moral dianggap barang antik, cocok dipajang di museum, bukan dijalani. Sementara akhlak? Hanya dimunculkan saat mau kampanye atau khutbah Jumat, lalu dilipat rapi dan disimpan kembali begitu pemilu usai.

Kita pun mulai terbiasa. Tertawa saat melihat pejabat menyuruh rakyat hidup sederhana sambil berdiri di samping mobil mewah. Menelan mentah-mentah slogan “dari rakyat, oleh rakyat, untuk keluarga sendiri.” Membaca berita korupsi seperti membaca ramalan cuaca—selalu ada, tak mengejutkan lagi.

Dan jarum itu, ya, tetap bergeming menunjuk ke bawah. Barangkali karena di sanalah sekarang semua arah berkumpul: nafsu, kuasa, uang, pencitraan, bahkan agama yang dimodifikasi jadi alat politik. Kompas ini rusak bukan karena pabrik pembuatnya salah. Tapi karena penggunaannya yang disengaja dibelokkan.

Maka, jika kelak ada seseorang yang mencoba membetulkan jarum kompas, jangan kaget bila ia dicibir: “Lurus amat, kayak penggaris.” Karena di negeri ini, meluruskan arah dianggap gangguan, bukan pembenahan.

Tapi siapa tahu, suatu hari nanti, ada angin utara yang kuat, meniup jarum itu untuk sekadar menengadah. Bukan karena kita layak, tapi karena alam sudah jenuh melihat manusia kehilangan arah.

 

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Ketika Cinta Bersaing dengan Golf: Menemukan Kedalaman Pikiran Manusia

Next Post

Mengapa Topi Haji Mirip dengan Topi Paus?

munira

munira

Related Posts

Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga

by munira
March 16, 2026
0

I. Ketika Manusia Pertama Kali Mendongak Pada mulanya, langit adalah kitab pertama yang dibaca manusia. Bayangkan diri Anda ribuan tahun...

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

My Love Said: I Am Late to Love Her — But the Answer Is: Better Late Than Never

by munira
March 13, 2026
0

Cinta kadang datang seperti hujan yang terlambat di musim kemarau. Tanah mungkin telah lama retak menunggu air, daun-daun mungkin telah...

Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

by munira
March 12, 2026
0

Oleh: Novita Sari Yahya Pertemuan Sederhana yang Membuka Renungan Pagi itu Jakarta berjalan seperti biasa. Kendaraan memenuhi jalan-jalan utama, orang-orang...

Mata Uang Bernama Integritas

by munira
March 3, 2026
0

Oleh : Novita sari yahya Sinar matahari pagi menyusup melalui tirai tipis di ruang kerja Elvira. Ia membuka jendela kecil...

Next Post
Mengapa Topi Haji Mirip dengan Topi Paus?

Mengapa Topi Haji Mirip dengan Topi Paus?

Di Antara Hidup dan Mati, Tak Ada Garis Pemisah

Di Antara Hidup dan Mati, Tak Ada Garis Pemisah

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Perenungan Menjadi Tua dan Kebahagiaan Melihat Penerus-Penerusnya
  • Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira