Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Sunyi Tuhan di Bukit Tengkorak

munira by munira
June 12, 2025
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Di tengah malam yang sepi, ketika angin menggigil di balik doa-doa yang tak terjawab, manusia selalu mencari sesuatu yang lebih tinggi dari dirinya. Sebuah harapan, sebuah pelipur, sebuah tangan tak kasatmata yang katanya penuh kasih, rahman dan rahim. Maka diciptakanlah sosok agung yang Maha, tak terlihat namun diminta segalanya. Tuhan.

Namun, di antara doa dan derita, dalam gelap yang panjang dan luka yang menganga, sesungguhnya tak ada yang benar-benar datang.

Yesus, sang Mesias, tubuhnya tergantung di palang kayu, darahnya menetes bersama waktu. Ia telah menyembuhkan yang lumpuh, membangkitkan yang mati, memberi makan yang lapar dengan lima roti dan dua ikan. Ia mengajar tentang cinta dan pengampunan. Tapi di puncak penderitaannya, di tengah jerit luka dan sekarat, ia bertanya—bukan pada murid, bukan pada ibu, bukan pada dunia—tetapi pada langit yang membisu:
“Eli, Eli, lama sabaktani?”
Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkan aku?

Pertanyaan itu bukan cuma milik Yesus. Itu adalah jeritan abadi manusia ketika keyakinan bertemu kenyataan. Ketika yang diyakini hadir, ternyata diam. Ketika yang ditunggu datang, justru pergi. Di detik-detik terakhir hidupnya, bahkan sang Anak Allah pun harus berhadapan dengan sunyi dari langit yang selama ini ia doakan.

Apakah ini bukan pukulan terakhir pada kepercayaan itu sendiri? Bila yang disebut “Anak Tunggal” pun tak dihiraukan, bagaimana dengan kita—manusia-manusia biasa yang tak punya mukjizat, tak punya pengikut, hanya punya tangis dan doa?

Di situlah mungkin kebenaran paling getir itu tumbuh. Bahwa Tuhan, entitas yang agung dan transenden itu, bisa jadi adalah ciptaan kita sendiri—sebuah ilusi kolektif untuk mengisi ruang takut yang tak terisi oleh logika dan cinta. Dalam ketakutan, kita menyebut nama-Nya. Dalam kesepian, kita berdoa. Dalam duka, kita menengadah. Tapi adakah yang benar-benar menjawab?

Kematian Yesus bukan hanya tragedi manusia; ia mungkin tragedi ide tentang Tuhan itu sendiri. Bahwa bahkan di puncak pengorbanan, tidak ada yang datang. Tidak ada malaikat. Tidak ada cahaya dari surga. Hanya angin sore yang membawa bau kematian, dan ibu yang menangis di bawah salib.

Maka kita bertanya kembali: benarkah Tuhan ada, ataukah Dia hanya harapan kosong yang kita puja karena terlalu takut pada kesendirian semesta?

Atau mungkin Tuhan memang ada—tapi bukan seperti yang kita bayangkan. Bukan seperti yang ditulis dalam kitab, digambar di dinding gereja, atau diserukan dalam azan dan lonceng. Mungkin Ia adalah sunyi itu sendiri, tak menjawab, tak menjanjikan, hanya menyaksikan dari kejauhan, diam-diam, tanpa intervensi.

Karena pada akhirnya, kita sendirilah yang harus memikul salib kita masing-masing. Dan mungkin itu satu-satunya kebenaran yang nyata: bahwa dalam derita, dalam sekarat, dalam getir paling sunyi, kita benar-benar sendirian.

Dan dari sanalah, justru, martabat manusia tumbuh. Bukan karena ditolong, tapi karena bertahan meski tak ditolong.

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Ragu: Titik Senyap Antara Keputusan dan Penyesalan

Next Post

Cinta Itu Datang Sendiri, Kadang Sambil Menyeringai

munira

munira

Related Posts

Jangan Segala Urusan Diserahkan kepada Allah

by munira
June 24, 2026
0

Muniranews - Ada satu kebiasaan yang diam-diam tumbuh dalam sebagian masyarakat kita: terlalu mudah menyerahkan segala urusan kepada Allah, bahkan...

SEJELEK-JELEK MUKA SAYA: KETIKA SEDANG MARAH

by munira
June 24, 2026
0

Ada satu wajah yang paling tidak saya sukai dalam hidup ini. Bukan wajah musuh. Bukan wajah orang yang pernah menyakiti...

Jika Tak Mampu Menjadi Cahaya, Jangan Menjadi Luka

by munira
June 15, 2026
0

Ketika tangan belum mampu memberi manfaat, setidaknya jangan menjadi tangan yang melukai. Ketika lisan belum mampu menyejukkan, jangan sampai berubah...

Keghaiban yang Diciptakannya Sendiri

by munira
June 14, 2026
0

Ada kalanya manusia tidak jatuh cinta pada kenyataan, melainkan pada ruang-ruang samar yang dibangunnya sendiri. Bukan pada apa yang benar-benar...

Next Post
Cinta Itu Datang Sendiri, Kadang Sambil Menyeringai

Cinta Itu Datang Sendiri, Kadang Sambil Menyeringai

Sesal Itu Datang Saat Hening

Sesal Itu Datang Saat Hening

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Jangan Segala Urusan Diserahkan kepada Allah
  • SEJELEK-JELEK MUKA SAYA: KETIKA SEDANG MARAH
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira