Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Takdir Itu Pilihan

munira by munira
January 10, 2026
in Fiksi
0
Share on FacebookShare on Twitter

Sejak kecil kita dijejali satu kalimat yang terdengar sakral: “Itu sudah takdir.”
Kalimat ini sering menjadi penutup dari pertanyaan yang tak ingin dijawab, menjadi bantalan empuk bagi kemalasan berpikir, atau menjadi tameng bagi kegagalan yang enggan diakui. Seolah-olah manusia hanyalah wayang, dan hidup ini panggung yang naskahnya sudah selesai ditulis sebelum kita lahir.

Namun benarkah takdir sedemikian kaku? Ataukah sesungguhnya takdir adalah pilihan yang kita rajut sendiri, benang demi benang, keputusan demi keputusan?

Dalam keyakinan spiritual mana pun, manusia selalu diberi satu anugerah istimewa: kehendak. Kita boleh lahir dari rahim yang berbeda, dalam keluarga yang tak sama, di negeri yang tak serupa. Itu mungkin bagian dari “garis awal” yang tak kita pilih. Tetapi setelah garis start, langkah kaki adalah milik kita. Kita memilih berjalan, berlari, diam, atau berbalik arah. Dari situlah takdir mulai ditulis.

Tidak ada seorang pun yang menjadi bijak karena takdir semata. Ia menjadi bijak karena memilih belajar. Tidak ada seorang pun yang menjadi kuat karena nasib. Ia menjadi kuat karena memilih bertahan. Bahkan kegagalan pun bukan takdir, melainkan hasil dari pilihan yang pernah diambil — atau kesempatan yang sengaja diabaikan.

Sering kali manusia berlindung di balik kata takdir agar tak perlu bertanggung jawab. Ketika malas, ia berkata “belum rezeki”. Ketika kalah, ia berkata “sudah kehendak Tuhan”. Padahal Tuhan memberi manusia akal bukan untuk disandarkan, tetapi untuk digunakan. Doa bukan pengganti usaha, dan pasrah bukan alasan untuk berhenti bergerak.

Takdir bukanlah garis lurus. Ia lebih mirip peta dengan banyak persimpangan. Di setiap simpang, ada papan bertuliskan pilihan. Ke kanan atau ke kiri. Maju atau mundur. Jujur atau curang. Berani atau takut. Jalan yang akhirnya kita tempuh — itulah yang kelak kita sebut takdir.

Bahkan dalam keyakinan religius sekalipun, sering disebut bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka sendiri yang mengubahnya. Kalimat ini jelas: takdir tidak turun dari langit dalam bentuk paket jadi. Ia diturunkan bersamaan dengan kesempatan, lalu manusia diminta memilih.

Maka berhentilah memaki takdir ketika hidup terasa sempit. Mungkin yang sempit bukan takdir, tapi pilihan yang kita takut ambil. Berhentilah menyalahkan nasib ketika mimpi tak tercapai. Mungkin yang kurang bukan keberuntungan, tapi keberanian.

Pada akhirnya, takdir bukan sesuatu yang menimpa kita.
Takdir adalah sesuatu yang kita ciptakan — pelan-pelan — melalui pikiran, keputusan, dan langkah kaki.

Dan kelak, ketika kita menoleh ke belakang, kita akan sadar:
bukan takdir yang menentukan pilihan,
tetapi pilihanlah yang membentuk takdir.

ADVERTISEMENT
Previous Post

Sehelai Rasa yang Tersisa

Next Post

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

munira

munira

Related Posts

Mengapa Benci kepada Setan, tetapi Mencintai Penciptanya?

by munira
August 27, 2026
0

Ada sebuah pertanyaan yang sederhana, tetapi diam-diam mengguncang cara kita memandang kehidupan: **Mengapa kita begitu membenci setan, tetapi pada saat...

Jahiliah: Ketika Kebenaran Masih Diselimuti Kabut

Jahiliah: Ketika Kebenaran Masih Diselimuti Kabut

by munira
August 26, 2026
0

Apa itu jahiliah? Jahiliah bukan semata-mata keadaan ketika manusia tidak mengenal Tuhan. Jahiliah juga bukan sekadar masyarakat yang miskin ilmu....

Apakah Saya Takut Tuhan?

Apakah Saya Takut Tuhan?

by munira
August 26, 2026
0

Apakah saya takut Tuhan? Tidak. Saya hanya takut kepada mereka yang mengaku takut kepada Tuhan. Sebab, orang yang benar-benar takut...

Stay There: Jangan Melangkah Melewati Kenyamanan

Ketika Saya Mati

by munira
August 25, 2026
0

Ketika saya mati, tidak perlu mengirim bunga. Bunga-bunga itu indah, tetapi ia hanya akan menjadi harum sesaat di atas tubuh...

Next Post
Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

Jangan Petik Bunga Itu: Ia Adalah Kelamin

Iman Tanpa Akal: Jalan Pintas Menuju Kesesatan Riwayat

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Mengapa Benci kepada Setan, tetapi Mencintai Penciptanya?
  • Jahiliah: Ketika Kebenaran Masih Diselimuti Kabut
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira