Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Kala Semesta Bersyair Lewat Sajen

munira by munira
April 24, 2025
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Pada suatu pagi yang belum sepenuhnya terjaga, di sudut tanah yang masih basah oleh embun, tampak sehelai daun pisang ditata rapi. Di atasnya, bunga kenanga, melati, dan kantil bersanding dengan butiran nasi, garam, dan sejumput kemenyan yang mengepul pelan. Inilah sajen—yang oleh lidah leluhur disebut sastra jenda: kitab suci yang hidup, kitab yang tak ditulis dengan tinta, tapi dengan getar jiwa.

Sastra jenda bukanlah ayat yang membatu dalam halaman. Ia menari bersama angin, ia menyanyi bersama gemericik air, ia bergetar dalam batin orang-orang yang tahu cara mendengar semesta. Ia adalah bahasa diam, tapi penuh makna; sunyi, namun lantang bagi siapa pun yang jernih hatinya. Sajen adalah caranya berbicara: tentang syukur, tentang seimbang, tentang rela memberi sebelum meminta.

Dalam sebatang dupa yang perlahan habis terbakar, manusia menitipkan harap dan maaf. Pada kelopak bunga, tersimpan penghormatan untuk yang telah mendahului. Pada setetes minyak kelapa, terkandung kesadaran bahwa hidup harus lentur, harus terang, harus sederhana. Semuanya menyatu menjadi pesan universal yang melampaui agama, melampaui zaman: bahwa hidup adalah persembahan, bukan penguasaan.

Sajen mengajari kita satu hal yang dilupakan oleh dunia modern: bahwa tidak semua harus dijelaskan oleh logika. Ada hal-hal yang hanya bisa dipahami oleh rasa. Dunia yang dulu tidak dibaca dengan buku, tapi dengan tanda. Dan sajen adalah tanda—ia adalah simbol dari simbol, lambang dari makna yang tak mungkin selesai dipahami oleh nalar semata.

Ia juga menjadi pengingat, bahwa manusia bukan pusat semesta. Kita ini hanya bagian, seperti pasir di pantai, seperti embun di pagi hari. Ketika kita memberi sajen, sejatinya kita sedang belajar menunduk. Kita sedang berkata kepada bumi, kepada langit, kepada api, air, dan udara: Aku sadar, aku ada karena kalian.

Sajen adalah puisi semesta, dibaca oleh rumput, didengar oleh batu, dirasakan oleh angin. Ia hidup bukan untuk diagungkan, tapi untuk dipahami. Dan saat kita meletakkannya, dengan setulus-tulusnya, di sanalah sastra jenda itu hidup. Menyala dalam hati, menyejukkan jiwa, dan memeluk kita dalam keheningan yang tak terucap.


 

ADVERTISEMENT
Previous Post

Sajen – Sastra Jenda: Kitab Suci yang Hidup, Simbol-Simbol Semesta

Next Post

Kitab yang Tak Ditulis, Tapi Hidup

munira

munira

Related Posts

Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri

Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri

by munira
September 15, 2026
0

*Kita berperang sengit di dalam diri, lalu apa gunanya perang dengan orang lain?* — Jalaluddin Rumi Ada perang yang tidak...

BERJALANLAH DI BUMI, BUKAN SEKADAR KE BAITULLAH – Ketika Al-Qur’an Memerintah “Fasīrū” dan “Fantashirū”, tetapi Tidak Berkata “Berhajilah!”

BERJALANLAH DI BUMI, BUKAN SEKADAR KE BAITULLAH – Ketika Al-Qur’an Memerintah “Fasīrū” dan “Fantashirū”, tetapi Tidak Berkata “Berhajilah!”

by munira
September 14, 2026
0

Oleh: Ali Syarief Ada sesuatu yang menarik dalam cara Al-Qur’an menggunakan bahasa ketika berbicara tentang perjalanan manusia. Al-Qur’an berkali-kali menggunakan...

Kalau Doa Sudah Cukup, Mengapa Nabi Harus Berperang?

by munira
September 13, 2026
0

Oleh Ali Syarief Ada satu pertanyaan sederhana yang jarang kita ajukan dengan serius: kalau doa memang bisa menjadi jalan utama...

DI ANTARA JUBAH, HASRAT, DAN PERNIKAHAN – Ketika Kesucian Berhadapan dengan Tubuh Manusia

DI ANTARA JUBAH, HASRAT, DAN PERNIKAHAN – Ketika Kesucian Berhadapan dengan Tubuh Manusia

by munira
September 12, 2026
0

By Ali Syarief Ada paradoks tua dalam kehidupan manusia: Semakin tinggi seseorang diminta meninggalkan dunia, semakin besar pula pertanyaan tentang...

Next Post
Kitab yang Tak Ditulis, Tapi Hidup

Kitab yang Tak Ditulis, Tapi Hidup

“Ittaqullah” dan “Ittaqū Rabbakum”: Pengakuan Al-Qur’an atas Eksistensi Ragam Keyakinan Manusia

"Ittaqullah" dan "Ittaqū Rabbakum": Pengakuan Al-Qur'an atas Eksistensi Ragam Keyakinan Manusia

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri
  • BERJALANLAH DI BUMI, BUKAN SEKADAR KE BAITULLAH – Ketika Al-Qur’an Memerintah “Fasīrū” dan “Fantashirū”, tetapi Tidak Berkata “Berhajilah!”
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira