Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Figure

Ketika Nama Para Penguasa Zalim Diabadikan Langit

munira by munira
April 23, 2025
in Figure, Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Dalam lembaran suci al-Qur’an, sejarah bukanlah sekadar narasi lampau yang diceritakan ulang. Ia adalah pengingat ilahiyah. Peringatan abadi. Di dalamnya, kita tak hanya menemui kisah para nabi dan orang-orang saleh, tapi juga deretan nama-nama yang mencerminkan kezaliman, kesombongan, dan pengingkaran terhadap kebenaran.

Firaun adalah nama yang paling menonjol dalam konteks ini. Ia bukan sekadar sosok historis Mesir Kuno, tapi arketipe penguasa yang mempersonifikasi tirani: menuhankan diri, memperbudak rakyat, dan menghina kebenaran yang dibawa Musa. Al-Qur’an tidak sekadar menyebut namanya; ia mengabadikannya sebagai simbol kekuasaan yang melampaui batas, agar kita waspada jika jejaknya kembali diulang di masa depan.

Qarun, sepupu Nabi Musa, mewakili sisi lain dari kezaliman: kerakusan atas harta yang membuatnya pongah, lupa bahwa kekayaan adalah titipan, bukan keagungan. Ia tidak membunuhi rakyat seperti Firaun, tapi membusukkan struktur moral masyarakat dengan ketamakan yang mewabah.

Haman, sang arsitek kekuasaan Firaun, adalah lambang intelektual yang menjual akalnya pada kezaliman. Ia bukan pemimpin, tapi menjadi instrumen yang mengukuhkan kekuasaan zalim. Sosok seperti ini bertebaran di sekitar kita—mereka yang membungkus kekuasaan tiranik dengan retorika hukum, pembangunan, atau bahkan agama.

Lalu ada Abu Lahab. Sosok yang tak menyandang jabatan struktural, tapi diabadikan sebagai simbol permusuhan terhadap dakwah dan nilai-nilai kebenaran. Ia adalah kerabat Nabi yang memilih untuk menjadi musuhnya. Dalam banyak lini kehidupan hari ini, “Abu Lahab” hadir dalam rupa yang tak selalu kita sadari: saudara sebangsa yang menista perjuangan hanya karena silau akan kekuasaan atau dendam pribadi.

Kenapa mereka diabadikan dalam kitab suci? Bukankah cukup disebutkan secara samar? Al-Qur’an dengan sengaja menempatkan nama-nama ini dalam ruang abadi agar umat manusia mengambil pelajaran—bahwa kekuasaan, harta, dan popularitas bisa menjadi alat kebinasaan jika tak diikat oleh akhlaqul karimah.

Inilah pelajaran besar peradaban. Kita hidup dalam zaman di mana figur-figur zalim bukan hanya ada, tapi dipuja. Diabadikan lewat patung, mural, atau bahkan algoritma media sosial. Kita hidup di era ketika “Firaun” bisa tampil dalam jas elegan, tersenyum dalam konferensi pers, dan memenjarakan rakyat dengan kebijakan.

Namun, al-Qur’an tidak hanya mengabadikan kezaliman. Ia juga memberi kita peta jalan keluar. Bahwa dalam menghadapi para Firaun, dibutuhkan Musa yang berani berdiri. Bahwa di hadapan Haman, perlu ada orang-orang yang menjaga integritas ilmu. Di depan Qarun, mesti ada generasi yang memuliakan berbagi. Dan di hadapan Abu Lahab, harus ada mereka yang menegakkan nilai walau dibenci saudara sendiri.

Ini bukan soal sejarah; ini tentang bagaimana kita membangun peradaban.

Sebab peradaban sejati bukan ditopang oleh menara beton atau jalan tol, melainkan oleh manusia-manusia yang menjaga akhlak dalam menghadapi kekuasaan. Mereka yang tak terpesona oleh gemerlap dunia, tak tunduk pada penguasa zalim, dan tak silau oleh angka-angka pembangunan yang menutup mata dari penderitaan rakyat.

Maka jika al-Qur’an mengabadikan para zalim, itu bukan karena mereka layak dikenang, tapi agar kita tak menjadi seperti mereka. Ini adalah proyek langit yang dititipkan kepada bumi—sebuah narasi abadi untuk memicu kesadaran bahwa peradaban hanya bisa tegak di atas pondasi moral. Itulah akhlaqul karimah.

Dan selama manusia masih bisa membaca, selama ayat-ayat itu tak dilupakan, maka nyala perlawanan terhadap kezaliman akan terus hidup.


 

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Ketika Ketakutan Menjadi Cermin Kekuasaan: Dari Jokowi, Suharto, hingga Nixon

Next Post

Sajen – Sastra Jenda: Kitab Suci yang Hidup, Simbol-Simbol Semesta

munira

munira

Related Posts

Cinta Tanpa Penilaian

by munira
April 28, 2026
0

Cinta, dalam bentuknya yang paling murni dan paling jujur, sering kali menuntut sesuatu yang terasa berlawanan dengan naluri kita: keberanian...

Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga

by munira
March 16, 2026
0

I. Ketika Manusia Pertama Kali Mendongak Pada mulanya, langit adalah kitab pertama yang dibaca manusia. Bayangkan diri Anda ribuan tahun...

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

My Love Said: I Am Late to Love Her — But the Answer Is: Better Late Than Never

by munira
March 13, 2026
0

Cinta kadang datang seperti hujan yang terlambat di musim kemarau. Tanah mungkin telah lama retak menunggu air, daun-daun mungkin telah...

Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

by munira
March 12, 2026
0

Oleh: Novita Sari Yahya Pertemuan Sederhana yang Membuka Renungan Pagi itu Jakarta berjalan seperti biasa. Kendaraan memenuhi jalan-jalan utama, orang-orang...

Next Post
Sajen – Sastra Jenda: Kitab Suci yang Hidup, Simbol-Simbol Semesta

Sajen - Sastra Jenda: Kitab Suci yang Hidup, Simbol-Simbol Semesta

Kala Semesta Bersyair Lewat Sajen

Kala Semesta Bersyair Lewat Sajen

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Cinta Tanpa Penilaian
  • Perenungan Menjadi Tua dan Kebahagiaan Melihat Penerus-Penerusnya
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira